Padahal undangan sudah disebar luas. Termasuk tenda dan kursi serta perabotan untuk perayaan khitanan anak ke tiganya sudah disiapkan. Pesta khitanan ini dijadwalkan berlangsung Kamis (27/12/2007) Sore ini.
"Ya, mau gimana lagi undangan sudah tersebar. Namanya juga bencana mau bagaimana lagi," keluh Ahmad saat ditemui detiksurabaya.com di rumahnya. Banjir yang mengepung rumahnya ketinggiannya 60 cm.
Akibat banjir yang menggenang didepan halaman rumahnya, ratusan kursi undangan terpaksa ditumpuk. Sedangkan Asep (12), mempelai yang akan dikhitan tetap dirias ala pengantin. Dia sudah dikhitan Rabu (26/12/2007) malam, saat itu banjir belum datang.
Pantauan detiksurabaya.com, Pukul 09.00 WIB, Asep didudukan di kursi goyang di ruang tamu menghadap halaman. Asep yang mengenakan baju koko, bersarung dan berkalung bunga melati lebih banyak diam termenung. Beruntung karena bangunan rumahnya sudah ditinggikan sehingga air tidak masuk ke rumah. Namun halamannya yang akan dipakai untuk perayaan terendam.
Menurut bapak tiga anak ini, rencananya resepsi khitanan akan diselenggarakan pukul 15.00 WIB dengan mengundang teman-teman sekolah anaknya. "Semoga nanti sore teman-temannya bisa datang dan merayakan sunatan si Asep meski keadaannya begini," kata Ahmad berharap. Meski kondisi banjir, namun para tetangga tetap menengok Asep dengan membawa bingkisan. Diantara mereka ada yang datang dengan naik perahu, lainnya nekat berbasah-basah ria. Selain ratusan kursi undangan yang sudah disiapkan ditumpuk, tenda sudah berdiiri kokoh didepan halaman rumahnya. Ketika detiksurabaya.com mendatangi rumah dengan menyewa perahu yang hanya berjarak 10 meter dari sungai Bengawan Solo ini keluarga Ahmad hanya bisa pasrah dengan keadaan saat ini.
Dari pantauan detiksurabayacom yang menyusuri perkampungan dengan menyewa perahu milik warga ini sebagian besar warga banyak yang tidak menyangka datangnya banjir tersebut.
Seperti yang dikatakan Saiful (32) salah satu warga mengatakan jika banjir yang menghamoiri tahun in tidak seperti biasanya karena datang terlalu cepat dari perkiraan.
"Biasanya itu, kalau banjir pada bulan Februari. Tapi bagi kami banjir inisudah biasa karena wajar tempat kita bersebelahan langsung dengan Bengawan Solo," jelasnya sambil membersihkan perabotan meja tamunya yang sempat terendam banjir. (ze/gik)











































