Pengamatan detiksurabaya.com, Kamis (27/12/2007) pukul 09.00 WIB, aktivitas penyeberangan di sebelah utara Pasar Besar Bojonegoro berjalan normal. Dua perahu kayu berkapasitas 20 orang tetap melayani warga yang menyeberang dari Desa Banjarsari menuju Kota Bojonegoro maupun sebaliknya.
Pemandangan ini cukup mengiris hati sebenarnya. Bagaimana tidak, arus Bengawan Solo cukup deras. Dan sesekali ada pusaran. Bahkan, satu perahu yang tanpa dilengkapi mesin diesel, hanya dikendalikan dengan dayung beberapa kali terseret arus saat menuju 'dermaga' di utara Pasar Baru.
Namun, para penumpang yang sebagian hendak ke pasar dan bekerja di kota Bojonegoro ini tetap tidak panik. Bahkan, mereka masih bisa bercanda dna tertawa. Padahal di perahu yang mereka tumpangi tak ada satu pun alat pengaman, seperti pelampung.
"Huuu...Ayo Mepet" warga secara serempat teriak ketika perahunya gagal merapat ke dermaga yang terbuat dari kayu dan terkesan ala adanya ini.
Lasmi, warga Banjarsari mengakui dirinya tidak mempunyai pilihan lain selain memanfaatkan jasa perahu penyeberangan meski nyawa menjadi taruhannya. Sebab, untuk menuju kota dari desanya paling cepat dan murah hanya dengan perahu. Para penumpang yang menjejali perahu ini tak hanya manusia, tetapi juga sepeda.
"Jika naik kendaraan umum, jauh. Karena memutar dan ongkosnya mahal. Kalau naik perahu kan cuma Rp 500 dan cepat. Hanya 10 menit sampai," kata Lasmi saat ditemui detiksurabaya.com sesaat akan menumpang perahu di utara Pasar Baru Bojonegoro.
Seorang pekerja yang mendayung perahu menyatakan bahwa pekerjaan yang telah digelutui selama tahunan ini memang rawan bahaya. Sewaktu-waktu bisa terbalik diterjang gelombang.
"Kita kan sudah terbiasa. Sehari-hari ya begini ini. Jadi Insya Allah bisa mengendalikan perahu dengan baik. Mudah-mudahan tidak ada apa-apa," katanya yang menolak menyebut namanya itu.
(gik/gik)











































