Menurut sekeretaris Desa Bandar, Suparno, peristiwa itu bermula dari munculnya suara bergemuruh dari atas tebing setinggi 60 meter.
Saat warga keluar rumah, ternyata bangunan masjid yang ada di kawasan pemukiman itu tidak tampak akibat tertimbun bongkahan batu besar. Selain itu dua rumah warga juga mengalami rusak parah, sedangkan belasan lainnya retak-retak. Tidak dilaporkan
adanya korban jiwa namun kerugian diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah.
Guna mengantisipasi kemungkinan lebih buruk, pihak pemerintah desa bersama masyarakat melakukan evakuasi terhadap 22 kepala keluarga yang tinggal di sekitar lokasi bencana. Pengungsi yang berjumlah sekitar 60 jiwa tersebut sementara ditempatkan di rumah sanak keluarga terdekat.
"Awalnya akan kami pindahkan ke balai desa, tapi jaraknya terlalu jauh sekitar 5 kilometer. Yang penting warga aman dulu", terang Suparno kepada detiksurabaya.com, Rabu (26/12/2007).
Suparno mengatakan, saat ini kondisi warga yang tinggal di pengungsian cukup memprihatinkan. Mereka harus tinggal berhimpitan dengan fasilitas serba minim. "Yang paling dibutuhkan warga adalah tenda maupun bahan pangan", tandasnya.
Suparno mengakui, awalnya proses evakuasi sempat mengalami kendala. Sebagian warga menolah dipindahkan karena khawatir kehilangan harta bendanya. Namun setelah dilakukan pendekatan secara persuasif, warga akhirnya mau menerima.
Kedepan, lanjut SUparno, pemerintah desa bermaksud merelokasi warga ke tempat yang lebih aman. Pasalnya, hingga saat ini permukaan tebing terus bergerak sehingga berpotensi terjadi longsor susulan.
(bdh/bdh)











































