Jebolnya tanggul sepanjang 25 meter dan lebar 6 meter tersebut memakan seluruh bahu jalan. Akibatnya, jalur utama yang menghubungkan Desa Karanggede dengan Kecamatan Arjosari putus total. Tak ayal, bencana alam menyebabkan roda perekonomian warga terganggu.
Untuk mengangkut komoditas pertanian ke Pasar Arjosari warga terpaksa berpindah. Ini lantaran badan jalan yang terbawa longsor hanya tersisa selebar 30 centimeter sehingga tidak muat dilalui kendaraan roda empat.
Untuk keamanan, warga memasang pengaman berupa bambu yang dipasang membujur sepanjang longsoran. Kondisi memprihatinkan tampak saat jam berangkat serta pulang sekolah.
Ratusan pengguna jalan baik pedagang maupun siswa harus antre melewati jalan setapak. Belum lagi ratusan kendaraan roda dua yang antre menyebabkan kemacetan.
"Bagaimana mau menjual hasil pertanian kalau jalan putus begini?," keluh Nur Hamid (45) warga setempat kepada detiksurabaya. com, Minggu (16/12/2007).
Lokasi jebolnya tanggul berada di tikungan sungai. Derasnya arus air tiap musim hujan menyebabkan erosi pada bagian fondasi. Dasar bangunan juga tidak diperkuat beronjong. Hal itu diduga menjadi penyebab cepatnya pengikisan.
Beberapa bulan sebelumnya, lanjut Hamid, beberapa bagian tanggul telah menunjukkan gejala ambles. Seperti adanya retakan dan gunturan. Namun warga tidak bisa berbuat banyak. Pasalnya, untuk membenahi dibutuhkan biaya cukup besar.
"Mudah-mudahan segara ditangani. Kalau tidak, berdampak dan bisa fatal terhadap ekonomi masyarakat," kata Sekretaris Desa Karangrejo, Sumardi (42). Apalagi jalan tersebut merupakan poros ekonomi yang menghubungkan kedua desa dengan kota kecamatan. (fat/fat)











































