"Setelah kita beberapa kali melakukan penelitian, ternyata masih banyak sumur warga yang tidak layak minum. Bahkan sudah tercemar bakteri e-coli," kata Kepala Bidang (kabid) Rencana dan Program Bappeda Kota Blitar Tri Imam Prasetyo, kepada wartawan, Kamis (13/12/2007)
Menurut Tri, tercemarnya sumur warga tersebut karena pengelolaan sanitasi lingkungan yang kurang benar, serta kesadaran mayarakat untuk meningkatkan kualitas hidup sangat rendah.
Bahkan keadaan ini diperparah lagi dengan minimnya sarana sanitasi dilingkungan di sekitar tempat tinggal mereka. "Kadar kontaminasi bakteri e-colinya cukup tinggi, hingga mencapai 75 persen di setiap sumur," ungkap Tri.
Selain itu, banyak kebiasaan buruk warga yang masih dilakukan, seperti buang air besar di sungai atau perairan terbuka serta pembuatan cubluk dan septic tank yang kurang memadai. Sehingga secara langsung limbah tersebut masuk ke sumur-sumur warga tanpa melalui proses yang benar.
Jika keadaan ini terus berlanjut, maka secara langsung dapat mengakibatkan timbulnya berbagai macam penyakit, seperti diare serta gatal-gatal. "Terutama untuk Wilayah Kecamatan Sukorejo dan Kepanjen Kidul karena merupakan daerah pemukiman padat." pungkas Tri.
(bdh/bdh)











































