Tanggul yang semula selebar 10 meter dengan bantaran sungai selebar 30 meter ini, longsor akibat hujan deras yang mengguyur kawasan Mojokerto dan sekitarnya, dalam 2 hari terakhir. Selain itu, dasar sungai juga tergerus akibat banyak aktivitas penambangan pasir.
Longsornya tanggul Sungai Brantas, membuat warga Desa Ngingasrembyong dan sekitarnya, banyak yang resah. Sebab jika tanggul itu longsor dan jebol, maka permukiman di desa itu yang pertama kali diterjang banjir bandang.
Kepada detiksurabaya.com, Sekretaris Desa Ngingasrembyong, Sudjarwo menyatakan, berbagai pihak, termasuk Pemkab Mojokerto, baru menyadari bahaya penambangan pasir dengan mesin di Sungai Brantas, saat longsor terjadi.
"Ini baru ancaman banjir banding. Jika saja kemungkinan terburuk sudah terjadi, maka siapa yang harus bertanggungjawab. Karena itu setelah diperbaiki, penambangan pasir harus dihentikan dengan peraturan daerah yang kuat," kata Sudjarwo.
Sejauh ini beberapa petugas Polsek dan Koramil Kecamatan Sooko berada di lokasi, sejak dinihari tadi. Namun perbaikan tanggul secara permanent masih belum bisa dilakukan, karena menunggu peralatan berat dari Pemkab Mojokerto.
Untuk sementara, warga yang masih berada di lokasi sudah menyiapkan kayu dan tanah, untuk mengantisipasi longsor susulan.
(bdh/bdh)










































