Demo tersebut untuk mengkritisi KTT Perubahan Iklim yang sedang
berlangsung di Bali. Dalam aksinya mahasiswa yang tergabung dalam GUMUK menggunakan kostum berwarna hijau yang mencerminkan alam serta simbol pengrusak alam seperti tabung gas dan sampah plastik.
Sedangkan mahasiswa yang tergabung dalam PMII membawa payung sebagai simbol penangkal pemanasan global.
Habibulloh dari GUMUK serta Afifudin dari PMII sangat menyayangkan tentang isi pembahasan KTT tersebut. "Hanya emisi karbon yang dibahas. Padahal pemanasan global itu tidak hanya berbicara tentang karbon tetapi juga kejahatan lingkungan yang lain seperti pembuangan limbah, illegal logging," kata Habibulloh.
Karenanya, kata dia, KTT di Bali hanya sebagai formalitas dan rencana negara maju untuk menghancurkan negara berkembang. "Itu wajah kapitalisme. Negara maju membiayai negara berkembang untuk menanam hutan, tetapi nantinya hutan itu akan ditebang dan dibeli oleh mereka juga," tegasnya.
Sedangkan Afifudin menegaskan bahwa KTT di Bali tidak mempunyai solusi untuk perbaikan alam di Bumi. "Menolak konsep REDD (Reduce Emission for Deforestation and Degradation) karena hanya dijadikan alat bagi elit dan tidak mensejahterakan rakyat," katanya.
Dalam aksinya, mereka membagikan selebaran pada pengguna jalan di sekitar Alun-Alun Jember dan DPRD Jember. (fat/fat)











































