Labuh laut dimulai dengan menggelar selamatan terlebih dahulu lengkap dengan tumpeng dan beberapa sesaji diserta 'hirip-hirip' (bentuk ikan yang terbuat dari tepung). Baru setelah itu, sesaji beserta 'hirip-hirip' diarak mengelilingi tepi pantai.
Ratusan warga ikut mengarak hirip-hirip menyusuri tepi pantai dengan kesenian jaranan berada di barisan paling depan. Ketika rombongan tersebut sampai dititik yang telah ditentukan, mereka menghentikan langkahnya dan melempar 'hirip-hirip' serta tumpeng ke tengah laut.
Menurut Lamiran (70) sesepuh Desa Sine, acara ritual labuh laut selalu di gelar dalam setiap tahunnya. Ritual ini menggambarkan rasa syukur nelayan atas apa yang diperolehanya selama ini, sehingga kita mengharapkan agar penghasilan di tahun yang akan datang lebih banyak lagi.
"Ritual selalu digelar setiap bulan selo (bulan penanggalan jawa, red), kalau nggak Jumat Kliwon atau Jumat pon" kata Lasiman sesepuh pemimpin ritual labuh laut, Jumat (7/12/2007).
Sebelum upacara labuh laut dimulai, seluruh warga yang ada di Dusun Sine terlebih dulu menggelar pembersihan sampah laut baik di pinggir pantai maupun sampah yang mengapung di tengah laut sekitar Pantai Sine. Hal ini dilakukan agar hasil tangkapan ikan akan lebih banyak. "Jika laut bersih ikan juga akan berkembang dengan baik dan hasil tangkapan juga akan bertambah " ungkap Lasiman.
Selama dilakukan upacara labuh laut, seluruh nelayan tidak diperbolehkan untuk melaut di sekitar Pantai Sine. Jika ada nelayan yang tetap nekatdan ketahuan, maka mereka akan diberikan sangsi sesuai dengan kesepakatan bersama.
"Selama 2 hari nelayan tidak boleh melaut, karena ini kepercayaan masyarakat nelayan Sine selama ini," papar Lasiman.
(bdh/bdh)











































