Gubernur Jatim Geram dengan Spekulan Tanah di Blok Cepu
Senin, 19 Nov 2007 15:53 WIB
Bojonegoro -
Lambatnya proses pembebasaan lahan di lokasi Blok Cepu membuat Gubernur Jatim Imam Utomo geram. Karena kenyataan di lapangan tengah terjadi tarik ulur harga dalam proses pembebasan antara warga dengan Mobil Cepu Limited (MCL).Imam Utomo merasa geram dengan ulah para spekulan tanah yang dianggap memperkeruh proses pembebasan lahan. Sebab mereka telah menguasai sebagian besar lahan yang akan dibebaskan dan menuntut harga lebih tinggi dari yang dipatok MCL senilai Rp 50 ribu per meter persegi."Ya karena calonya banyak, nego harga makin ruwet saja," kata Imam Utomo dihadapan wartawan usai meresmikan Jembatan Rajekwesi yang menghubungkan Kecamatan Malo dengan Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro, Senin (19/11/2007).Imam menyatakan, dirinya telah mendapat bukti kuat adanya keterlibatan pada broker tanah yang 'bermain' dalam program pembebasan lahan Blok Cepu. Bahkan ada yang sudah membentuk sebuah jaringan atau mengatasnamakan suatu lembaga."Saya tahu siapa mereka. Ada bukti, sudah ketemu. Banyak sertifikat tanah yang sudah dibalik nama, banyak juga yang nama sertifikatnya sama," jelas Imam tanpa menyebut nama spekulan kelas nasional yang kini jadi tuan tanah Blok Cepu di Kecamatan Ngasem, Bojonegoro.Namun, Imam Utomo berharap keberadaan pada calo tanah tidak mengganggu tahap pembebasan lahan Blok Cepu. Imam memberi batas waktu pada Bupati Bojonegoro HM Santoso untuk membantu menuntaskan negosiasi jual beli lahan selambatnya November 2007 ini."Nah, Pak Santoso khan sudah berupaya. Tuntas bulan-bulan ini, Pak Santoso sudah menyanggupi," tegas Imam Utomo yang diamini oleh Bupati HM Santoso dengan menganggukkan kepala.Tahap pembebasan lahan Blok Cepu bersifat sangat mendesak, mengingat pembangunan konstruksi industri migas Blok Cepu akan dimulai awal 2008 nanti. Terutama atas lahan sekitar Sumur Alastuwa Barat di Desa Ngasem, Kecamatan Ngasem yang jadi tolak ukur dalam program pembebasan beberapa titik pengeboran sumur minyak lainnya.Diantaranya, Sumur Banyu Urip di Desa Mojodelik, Kecamatan Ngasem yang membutuhkan lahan sekitar 600 hektar. Sumur Alastuwa Timur di Desa Ngunut, Kecamatan Dander. Serta Sumur Kedungkeris di Desa Leran Kecamatan Kalitidu.
(bdh/bdh)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































