Dimana Pengungsi Kelud Jika Kebelet Ngeseks?

Dimana Pengungsi Kelud Jika Kebelet Ngeseks?

- detikNews
Minggu, 04 Nov 2007 01:57 WIB
Kediri - Bayangkan jika Anda dan istri tinggal di pengungsian yang penuh sesak. Bagaimana jika tiba-tiba ada keinginan ngeseks dengan pasangan istri atau suami tercinta? Yang jelas tak mungkin dipaksakan di lokasi pengungsian! Itulah yang dirasakan para pengungsi Gunung Kelud yang beberapa hari ini tinggal di tenda-tenda pengungsian. Apalagi di pengungsian, pemerintah tidak menyediakan ruangan khusus yang bisa untuk menunaikan kebutuhan biologis pengungsi.Akhirnya dengan berbagai alasan terpaksa digunakan pengungsi hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan biologis, salah satunya dengan aksi 'menculik' pasangan hidup dari lokasi pengungsian. Aksi 'menculik' ini dianggap merupakan cara terbaik agar kebutuhan biologis dari sebuah pasangan yang tinggal di pengungsian tetap terpenuhi dengan lancar. Yang dimaksud menculik adalah menjemput istri di lokasi pengungsian untuk diajak pulang ke rumah untuk melepas rasa rindu.Sebut saja Suwarno (37), yang malam ini sempat berbincang dengan detiksurabaya.com di lokasi pengungsian Balai Desa Tawang, Kecamatan Ngancar Kab Kediri bercerita, jika saat mengungsi beberapa waktu lalu, dia juga sering menculik isterinya sendiri, hanya untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Caranya, dia memberikan alasan kepada petugas penjaga lokasi pengungsian, jika sapi perah miliknya pada malam hari biasa diperah. Dan jika bukan istrinya yang melakukan perah sapi, maka hewan ternak piaraannya tersebut akan rewel sepanjang malam. "Kalau nggak begitu ya nggak diizinkan pulang, sedangkan di lokasi pengungsian kan nggak mungkin kami 'bermain'," kata Suwarno, Minggu (4/11/2007) dinihari. Suwarno menceritakan jika alasan yang diberikanya sebenarnya tidak mengada-ada.Namun biasanya sapi diperah pada pukul 03.00 WIB, namun dia akan berangkat pulang bersama istrinya sejak pukul 12.00 WIB. Jeda waktu saat menunggu waktu perah itulah yang dimanfaatkanya untuk memenuhi kebutuhan biologis. Ketika ditanya mengenai kesan suka dukanya harus bolak balik dengan jarak beberapa kilometer hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis, Suwarni mengaku meski susah, dirinya dan istri tetap senang. "Yang penting urusan yang satu itu tak terganggu. Kami tetap senang," imbuh Suwarno. Sementara itu wacana yang diusulkan beberapa pengungsi agar Satlak PB mendirikan 'Bilik Asmara' di lokasi pengungsian untuk pasangan suami isteri pengungsi dapat tetap memenuhi kebutuhan biologis, tampaknya hingga kini belum terealisasi. (gik/gik)
Berita Terkait