Kelud Kritis, Pengungsi Dangdutan Bersama Bupati Blitar
Sabtu, 03 Nov 2007 00:27 WIB
Blitar -
Ratusan pengungsi di Posko Pengungsi Terpadu Perkebunan Nyunyur KecamatanGandusari, Blitar, Selasa (2/11/2007) malam dihibur pertunjukan orkes dangdut. Ratusan massa, bukan hanya pengungsi tetapi juga warga sekitar, berbaur di depan panggung menggoyangkan tubuhnya.Goyangan mereka itu seperti lupa jika kondisi Gunung Kelud kritis dan sewaktu-waktu bisa meletus. Pentas dangdut di pengungsian Kelud itu memang sengaja digelar untuk menghibur para pengungsi agar tidak jenuh. Terutama remaja dan orang dewasa. Apalagi pengungsi sudah memasuki hari ke 10 mengungsi, yang membuat mereka sangat rentan mengalami kejenuhan dan bosan. Suasana semakin meriah saat Bupati Blitar Herry Nugroho naik ke atas pentas. Orang nomor satu di Kabupaten Blitar yang memang hobi menyanyi tersebut, melantunkan lagu yang sangat familiar bagi segala usia. Lagu yang populer dibawakan group band Mata, Ketahuan, dilantunkan Herry dengan irama dangdut.Dilanjutkan dengan lagu kedua yang tidak kalah populer berirama dangdut koplo,Kucing Garong. Meski suasana disaput hujan gerimis, warga dan pengungsi yang berbaur terlihat asyik menikmati lantunan lagu yang dibawakan dua penyanyi lokal, yang juga diiringi group musik dangdut lokal."Kami berharap warga masyarakat bisa memahami mengapa harus mengosongkan daerah-daerah yang jaraknya kurang dari 10 km dari kawah. Karena jika Keludbenar-benar meletus, daerah tersebut sangat berbahaya bagi keselamatan jiwa kita," ungkap Herry Nugroho sebelum menyanyi.Saat dikonfirmasi detiksurabaya.com sesudah acara dangdutan, tentang kondisi mental pengungsi yang bisa saja memburuk karena tidak kunjung ada kepastian kapan Kelud meletus, Herry Nugroho mengatakan, sebaiknya semua pihak mempercayai petugas vulkanologi dari Kementerian ESDM. Selama status Awas belum diturunkan, sebaiknya warga yang tinggal di kawasan bahaya tetap bertahan di pengungsian. Apalagi dalam kondisi Kelud yang semakin memasuki fase letusan seperti saat ini, meskipun tidak juga bisa dikalkulasi kapan kira-kira Kelud meletus. "Oalah, Mbak. Mbok yo nek mbledos ki yo mbok ya ndang mbledos, karuane (Sebenarnyabegini Mbak. Kalau meletus ya cepat meletus jadi sekaliah gitu-red)," ungkap seorang ibu muda dengan nada putus asa, saat berbincang dengandetiksurabaya.com sambil menonton pentas dangdut di pengungsian Nyunyur.
(gik/gik)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































