Pijat Ala Pengungsi Gunung Kelud
Selasa, 30 Okt 2007 14:00 WIB
Kediri - Tinggal di pengungsian tak selamanya menyedihkan. detiksurabaya.com yang dalam beberapa hari terakhir menyempatkan bermalam di lokasi pengungsian, menemukan berbagai hal menarik. Salah satunya adalah, pekerjaan tukang pijat yang menjadi berkah tersendiri bagi beberapa pengungsi yang memiliki keahlian khusus memijat. Salah satu tukang pijat yang mencoba meraih keuntungan dengan tetap memiliki penghasilan di saat beberapa rekannya sesama pengungsi kesulitan mencari penghasilan adalah Mbah Katinem (60).Nenek 4 cucu dari Dusun Mulyorejo, Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, dan menempati lokasi pengungsian di halaman parkir GKJW Desa Tawang Kecamatan Wates ini dalam sehari dapat menghasilkan uang mencapai Rp. 60 ribu. Meski mengaku menurun apabila dibandingkan dengan penghasilannya ketika memijat di rumah, jumlah uang itu masih lumayan banyak apabila dibandingkan sesama pengungsi lain yang saat ini justru kesulitan memenuhi kebutuhannya, karena tak lagi bisa bekerja."Mandap mas asilipun. Tapi nggih lumayan timbang mboten wonten blas. (Turun mas hasilnya. Tapi ya lumayan daripada tidak ada sama sekali)," kata Mbah Katinem lugu, Selasa (29/10/07).Bahkan, dengan melakukan pekerjaan memijat di pengungsian, orang yang menjadi pasiennya untuk dipijat tak hanya tetangganya di rumah, namun juga petugas Satlak PB dan keamanan yang mencoba keahliannya dalam memijat. Selama melakukan pekerjaan memijat di pengungsian, Mbah Katinem tak memasang tarif. Berapa pun pemberian pasien dia terima dengan lapang dada. "Terserah pemberian berapapun dari orang yang saya pijat," imbuh Mbah Katinem dalam bahasa Jawa.Ketika ditanya mengenai penggunaan uang yang didapatkanya dari memijat di pengungsian, Mbah Katinem menyebut untuk pemenuhan satu kebutuhan wajibnya, yaitu rokok. Selain itu, hasil memijatnya untuk membeli gula, kopi, dan kebutuhan lainnya. Bahkan terkadang uang hasil memijatnya untuk membantu memenuhi kebutuhan pengungsi lainnya. Namun demikian, Mbah Katinem tetap mengaku tidak betah tinggal di pengungsian. Jumlah pasien yang bisa dipijatnya, menjadi alasan mengapa dia bersikeras untuk dapat secepatnya dapat meninggalkan lokasi pengungsian. "Bagaimana pun tetap enak di rumah. Yang saya pijat sebagian besar tetangga saya di rumah," lanjut nenek yang tampak masih terbiasa menghisap rokok ini. Di pengungsian, dalam satu hari jumlah pasien yang dipijatnya tak menentu. Terkadang 2 atau bahkan mencapai 4 orang.
(mar/mar)











































