Ratusan Hektar Tebu Terancam Lahar Gunung Kelud

Ratusan Hektar Tebu Terancam Lahar Gunung Kelud

- detikNews
Selasa, 23 Okt 2007 22:53 WIB
Blitar - Kecemasan menghinggapi para petani dan pengusaha jual beli tebu di DesaSumberasri Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar. Ratusan hektar tanaman tebu yang siap tebang terancam gagal panen, karena daerah tersebut masuk dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) II dan I Gunung Kelud. Petani mulai khawatir jika Gunung Kelud benar-benar meletus, mereka akan mengalami kerugian yang sangat besar. Berdasarkan data di Desa Sumberasri terdapat tanaman tebu sekitar 240 hektar, yang terdiri dari 120 hektar milik perkebunan Gambar dan 120 hektar lainnya milik warga.Hingga saat ini baru sekitar 50 persen saja yang sudah di panen. Nilai jual tebusiap panen tersebut mencapai Rp 15 juta per hektar. Jika yang belum dipanen seluas sekitar 120 hektar, maka potensial kerugian petani dan pengusaha tebu mencapai Rp 1,8 Miliar. Lahan tebu yang siap panen tapi terancam gagal dipanen tersebut, kebanyakan berada di KRB II dan bantaran sungai aliran lahar Kelud. Menurut Gatot Suyanto (40) seorang pengusaha jual beli tebu asal Desa SumberasriKecamatan Nglegok, dari sekitar 10 hektar lahan tebu yang dimiliknya, saat ini masih menyisakan 4 hektar yang belum di panen. "Rugi, Mas. Ra iso panen, ra eneng sing gelem buruh tebang karo nguli ngangkat tebu nyang trek (Rugi, Mas. Tidak bisa panen, tidak ada yang mau jadi buruh tebang dan kuli angkut ke truk-red)," terang Gatot dengan Bahasa Jawa saat dikonfirmasi detiksurabaya.com, Selasa (23/10/2007) di Balai Desa Sumberasri.Selain kesulitan mencari buruh tebang dan kuli angkut, kesulitan lainnya yangdihadapi petani dan pengusaha tebu adalah terbatasnya Surat Perintah Tebang Angkut (SPTA) yang dikeluarkan pabrik gula. Mereka biasanya mengirim tebu-tebu tersebut ke PG Ngadirejo dan PG Pesantren di Kediri, PG Mojopanggung diTulungagung dan PG Lestari di Nganjuk. Mereka juga mensuplai penggilingan gularakyat, namun kapasitasnya sangat terbatas."Kami sudah mengajukan permintaan tambahan SPTA ke pabrik-pabrik gula itu, tapisampai sekarang tidak ada jawaban," ungkap Gatot dengan nada kecewa. (gik/gik)
Berita Terkait