Saatnya Pemerintah Melibatkan Warga Gunung Kelud

Saatnya Pemerintah Melibatkan Warga Gunung Kelud

- detikNews
Senin, 22 Okt 2007 11:25 WIB
Surabaya - Gunung Kelud memang penuh dengan keunikan. Gunung api aktif yang seharusnya sudah meletus jika merujuk hasil pemantauan Tim Vulkanologi dan Mitigasi Bencana namun toh masih tenang-tenang saja.Tetapi, akivitas yang fluktiatif tersebut, status Awas yang ditetapkan masih belum dicabut. Imbasnya warga yang tinggal di perkampungan di kaki gunung harus mengungsi.Warga pun resah. Berbagai alasan, mulai dari tidak nyaman, memikirkan hewan ternak, tidak dapat jatah makan, membuat warga ngotot pulang ke desanya atau bahkan menolak diungsikan.Pengungsian warga yang berada di daerah rawan bencana memang tidak bisa dihindari. Namun agar warga bersedia secara sukarela, mestinya pemerintah daerah maupun Satlak Penanggulangan Bencana melibatkan warga lokal dalam merumuskan maupun menentukan kebijakan."Kalau menurut saya, semua harus terbuka. Kita selama ini selalu menganggap warga sebagai obyek. Tidak pernah diikutkan dalam menentukan itu, Sekarang ini waktunya dilibatkan," kata Amin Widodo, Kepala Pusat Studi Bencana ITS kepada detiksurabaya.com, Senin (22/10/2007).Menurut Amin, selama ini warga sudah mempunyai pengalaman dan lama tinggal di wilayahnya. Beberapa kali Kelud meletus, mereka pernah merasakan."Tentunya mereka tahu tanda-tanda jika Kelud akan meletus. Pasti ada. Kearifan atau budaya lokal sudah harus diperhatikan. Dikombinasikan antara ilmiah," katanya.Warga dengan segudang pengalamannya bisa didengarkan untuk merumuskan kebijakan penanganan Kelud. "Misalnya di desa tersebut jika Kelud meletus butuh berapa waktu lama untuk mengungsi. Dan kejatuhan material atau tidak," terangnya.Jika warga ikut dilibatkan, maka akan muncul kesadaran ketika situasi Kelud mengkhawatirkan. "Sekarang ini muncul perbedaan pandang dari kearifan lokal dengan hasil ilmiah. Mestinya bisa dikombinasikan. Kecuali kepercayaan warga yang tak bisa dijelaskan secara ilmiah," jelasnya.Ia mencontohkan, kearifan lokal yang bisa dijelaskan secara ilmiah dan rasional adalah tanda-tanda akan melestus, biasanya warga melihat banyak binatang liar turun dari Gunung Kelud. Atau pun banyak tanaman yang layu."Tapi jika ada mimpi atau yang gaib-gaib memang kita tidak bisa menjelaskan secara ilimiah," tandasnya.Tim Pusat Studi Bencana ITS akan ke kaki Gunung Kelud untuk mencoba menggali potensi-potensi kearifan lokal. "Kita akan memberikan pengertian kepada masyarakat. Mari kita saling menyadari," tambahnya. (gik/mar)
Berita Terkait