Demi Ternak, Warga Nekat Dekati Kawah Gunung Kelud
Senin, 08 Okt 2007 01:05 WIB
Kediri -
Larangan mendekati danau kawah Gunung Kelud dari radius 5 Km tak digubris oleh warga yang tinggal di kaki gunung. Dengan alasan keterbatasan makanan hewan ternaknya, mereka nekat melanggar juga.warga yang nekad mencari rumput di lereng gunung api yang statusnya masih 'siaga' ini terlihat di Dusun Mulyorejo, Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kediri. Padahal kawasan ini masuk sebagai lokasi dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) I, karena paling dekat dengan danau kawah.Sebagian besar warga hari ini sudah mulai kembali mencari rumput hingga memasuki radius 5 KM dari danau kawah. "Saya tadi mencari rumput di atas yang sebenarnya masuk daerah terlarang. Memang agak sesak nafas saya tadi, tapi mau bagaimana lagi," kata Sutedjo (51), salah satu warga Dusun Mulyorejo kepada wartawan, Minggu (7/10/2007) petang.Sutedjo mengatakan terpaksa melanggar 'daerah terlarang' karena terdesak kebutuhan makanan hewan ternaknya. Dia mengaku stok pakan sudah mulai habis. "Lama-kelamaan kan habis juga kalau pakan yang ada di tempat yang terbatas itu harus diperebutkan warga satu Desa Sugihwaras. Satu-satunya jalan ya harus nekad ke atas," imbuh Sutedjo.Diserang rasa bosanRasa bosan mulai menghinggapi masyarakat yang pemukimannya masuk rawan bencana. Yang palingh terasa adalah kalangan ibu-ibu. Karena setiap hari terpaksa harus bongkar pasang pakaian yang sudah dikemas. "Setiap hari saya harus bongkar pasang, kan bosan juga. Sekarang ya semua pakaian yang dulu saya kemas, saya bongkar lagi," kata Nafsiah (37).Nafsiah mengaku pasrah apa yang akan terjadi nantinya. Jika statusnya sudah awas dan warga harus mengungsi, pakaian itu baru akan dikemasnya lagi. Kebosanan seorang ibu juga dirasakan Widjiastuti (27). Ibu muda ini sebelumnya sudah mulai menyimpan berbagai kebutuhan makanan.Namun kondisi Gunung Kelud yang serba tak pasti, stok makanan yang disiapkan itu sedikit demi sedikit sudah mulai digunakan untuk keperluan sehari-hari. "Kan sayang kalau rusak, lebih baik saya gunakan sekarang," kata Widjiastuti.
(gik/gik)










































