Pembantaian Berlanjut di Kresek

Kekejaman PKI di Madiun (2)

Pembantaian Berlanjut di Kresek

- detikNews
Senin, 01 Okt 2007 09:40 WIB
Madiun - Kedatangan pasukan TNI membuat PKI kocar-kacir. PKI bersama tawanan penduduk sipil melarikan diri usai pembantaian di Sumur Seco (kini disebut Soco), Kecamatan Bendo, Magetan. Namun pelarian PKI yang dipimpin Amir Muso terhenti di Desa Kresek, Wungu, Madiun.Pengikut PKI itu melarikan diri saat pasukan Kodam Siliwangi Jawa Barat masuk hutan menyusuri daerah barat Gunung Lawu. Karena terdesak, PKI itu akhirnya bergeser ke arah timur yaitu memasuki hutan kawasan Gunung Wilis, Kabupaten Madiun. Ternyata, sesampainya di hutan itu terjebak di Sungai Kresek dan rombongan Amir Muso terpaksa pembatalkan pelariannya. "Karena tidak ada jalan lain, pasukan PKI akhirnya menetap di Desa Kresek. Sebab, PKI mendengar kalau arah timur juga dikepung pasukan TNI," ujar Maedjan (75), saksi hidup peristiwa PKI tahun 1948 kepada detiksurabaya.com, Senin (1/10/2007).Hal yang sama juga dikatakan Muslich Rizza (81), warga Kelurahan Pangongangan, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun. Dia menjelaskan pada saat PKI meletus tahun 1948 terdapat ratusan jiwa melayang dalam peristiwa itu. Menurutnya, terjadi pembantaian di Kresek selain terdesak pasukan TNI dan sebelumnya PKI telah menyandera tokoh, ulama, militer, polisi, anggota DPRD, wartawan, pegawai kesehatan, asisten wedono, guru, pegawai pabrik gula serta ratusan rakyat sipil.Saat itu puluhan truk, mobil jeep, serta motor yang dikendarai konvoi PKI tidak bisa meneruskan perjalanan menaiki hutan kawasan Gunung Wilis. Bersamaan itu juga, PKI masuk ke perkampungan Desa Kresek yang hanya dihuni sebanyak 12 KK. Kemudian rumah milik seorang penduduk Desa Kresek yakni Sumo Radjimin dikuasai dan digunakan pasukan PKI sebagai tempat penyanderaan hingga pembantaian para tawanan. "Di rumah ukuran 10 x 12 meter itulah, rakyat tak berdosa dibantai dengan sadis. Untuk mengenang sejarah, pemerintah daerah akhirnya membangun replika sebuah pendopo monumen yang bentuk dan isinya disesuaikan dengan isi dan kondisi rumah milik Sumo Radjimin saat itu," ungkapnya yang juga seorang saksi sejarah gerakan PKI itu. Ia mengatakan, pimpinan PKI yakni Amir Muso mampu menguasai wilayah Karesidenan Madiun ternyata dibantu tokoh lokal yaitu Sumarsono dan Muntalib. Pemikiran Amir Muso, ternyata dalam waktu hitungan hari berhasil menguasai serta menghasut rakyat dengan slogan-slogan komunis tentang pemerataan hingga PKI dikenal di seluruh pelosok wilayah Karesidenan Madiun. "Ketika PKI menjadi besar di Karesidenan Madiun, pemberontakan serempak pun dilaksanakan akibat tekanan dari pasukan Kodam Siliwangi-Jawa Barat," urai Muslich Rizza, yang mengaku pernah menjadi penunjuk jalan pasukan dari Kodam Siliwangi itu. (mar/mar)
Berita Terkait