Tak Ada Lagi Air Bersih Untuk Korban Gempa
Selasa, 18 Sep 2007 15:15 WIB
Situbondo -
Dua hari berselang, ratusan warga korban gempa di Asembagus, Situbondo, Jatim, kebingungan. Mereka mengeluhkan sulitnya mendapatkan air bersih. Sejumlah truk tangki yang biasa memasok air bersih ke tenda-tenda pengungsian korban gempa hingga Selasa (18/9/2007) siang, belum juga menyalurkan bantuan.Kondisi ini membuat ratusan warga yang hingga kini masih bermukim di tenda-tenda pengungsian Dusun Betholabang, Gunung Bunter, Beto Kodung (Desa Kedunglo) dan di Dusun Lowa serta Dusun Pariopo (Desa Bantal) kelimpungan. Mereka terpaksa mengais air bersih dari sumur-sumur yang kondisinya tak layak konsumsi akibat tertimbun tanah dan bongkahan batu saat gempa bumi sepekan silam."Sudah dua hari ini kami tidak mendapat bantuan air bersih. Yang kami terima hanya bantuan air mineral kemasan gelas untuk minum. Untuk kembali ke rumah kami masih takut, sebab tadi malam masih ada guncangan gempa sebanyak dua kali," papar Marias (27), salah seorang gempa yang ditemui detiksurabaya.com di tenda pengungsian Batu Labhang.Terhentinya pasokan air bersih selama 2 hari terakhir itu, memaksa warga untuk sementara tidak mandi. Untuk keperluan memasak mereka menggunakan air sumur yang tak lagi bersih. Sedangkan untuk buang air besar mereka ada yang nekat menggunakan tanah lapang dan kawasan pebukitan tandus sekitar.Sejak terjadinya bencana gempa bumi, ratusan warga yang mendiami tenda-tenda pengungsian mendapat jatah pasokan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Situbondo, PMI, Komando Pendidikan Latihan Tempur (Dodiklatpur) TNI AD serta bantuan lembaga sosial kemasyarakatan."Saya belum tahu secara pasti penyebabnya. Biasanya truk-truk tangki itu seliweran memasok ke sejumlah tenda pengungsian. Sampai siang ini sejak kemarin kok belum juga muncul," terang Made Harsanto (35), petugas di Posko Induk dan Pengungsian Desa Kedunglo.Selain terhentinya pasokan air bersih, menurut Made yang juga staf Kecamatan Asembagus ini, kebutuhan mendesak yang sangat dibutuhkan korban bencana adalah masih kurangnya fasilitas tenda pengungsian. Hal itu terkait kondisi trauma warga yang hingga saat ini takut untuk pulang, menyusul masih berlangsungnya gempa bumi susulan meski dengan skala rendah."Kalau guncangan-guncangan kecil hampir setiap hari terjadi. Ini sangat terasa bagi warga Dusun Batulabhang, Gunung Bunter dan Batukodhung. Mereka masih sangat ketakutan dan menumpuk di tenda-tenda pengungsian yang overkapasitas. Jadi sangat butuh tenda lagi," timpal Sulton, petugas Posko Induk Bencana.
(mar/mar)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































