Disebut Miskin, Ratusan Walimurid Labrak Kepsek

Disebut Miskin, Ratusan Walimurid Labrak Kepsek

- detikNews
Senin, 10 Sep 2007 11:50 WIB
Kediri - Tak senang dengan praktek pungli yang dilakukan kepala sekolah (kepsek), lebih dari 200 walimurid SDN Branggahan, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Senin (10/9/2007) menggelar demo. Mereka melabrak kepsek sekolah itu menuntut penjelasan atas pungli yang dilakukan sekolah itu.Mereka kepsek meminta maaf atas kata-kata kasar yang disampaikan lewat undangan kepada walimurid. Aksi demo yang dimulai pada pukul 10.00 WIB tersebut membuat aktivitas belajar mengajar berhenti total. Kedatangan walimurid untuk menggelar demo ini bermula dari adanya surat edaran kepada seluruh siswa, mulai dari kelas I hingga kelas VI perihal adanya pungutan sebesar Rp 25 ribu, untuk keperluan pemasangan paving di halaman sekolah. Walimurid merasa keberatan dengan besaran pungutan tersebut. Selain keberatan dengan besaran nilai pungutan, mereka juga merasa tidak dihargai dengan tidak dilibatkan dalam perencanaan pemasangan paving tersebut. Selain tidak melibatkan walimurid dalam perencanaanya, Komite Sekolah, yang seharusnya diajak bermusyawarah, juga mengaku tidak pernah dilibatkan dalam perencanaanya. "Masak tiba-tiba anak kami diberi edaran mengenai adanya pungutan sebesar Rp 25 ribu. Kami tidak pernah diajak bicara mengenai adanya rencana pemasangan paving tersebut, makanya kami keberatan," kata Mujiati (31), salah satu walimurid Senin (10/9/2007). Walimurid juga menuntut permohonan maaf, atas kata-kata kasar yang disampaikan pihak sekolah dalam undangan guna perihal penjelasan adanya pungutan tersebut. "Anda baca sendiri, apa ini tidak pelecehan," kata Shodiq (42), salah satu anggota Komite Sekolah, sambil menunjukkan undangan.Dalam undangan tersebut tertera kata-kata yang dianggap melecehkan wali murid, yaitu bagi wali murid yang merasa miskin, harap datang ke sekolah dengan membawa KK, dan menadatangani surat pernyataan. Menanggapi aksi demo yang dilakukan ratusan wali murid tersebut, Kepsek SDN Branggahan, Sujarwo menolak jika pungutan yang dibebankan kepada siswa merupakan pungutan liar. "Itu amal jariyah, tidak pernah kami bermaksud mengadakan pungutan liar. Apalagi itu kan untuk keperluan pembangunan di sekolah ini," kilah Sujarwo. Terkait permohonan maaf atas kata-kata yang dianggap kasar dalam undangan, Sujarwo mengakui itu sebagai kekhilafan. "Kami mohon maaf, apabila kata-kata tersebut telah menyinggung perasaan bapak dan ibu wal murid," lanjut Sujarwo. (mar/mar)
Berita Terkait