Larung Sesaji Tolak Balak di Gunung Kelud
Minggu, 09 Sep 2007 16:14 WIB
Kediri - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri menggelar ritual larung sesaji di kawah Gunung Kelud yang berada di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Minggu (9/9/2007). Ritual ini digelar dengan tujuan menolak balak, sesuai dengan sejarah terjadinyagunung kelud, yang menyisakan misteri dari kutukan penguasa Gunung Kelud. Sesuai sejarahnya, ritual larung sesaji ini merupakan sejarah yang terjadi pada masa Kerajaan Kadiri. Pada saat itu, putri Raja Kadiri, yaitu Dewi Kilisuci dilamar oleh 2 raja yang bukan dari bangsa manusia, yaitu Lembu Suro dan Mahesa Suro. Namun dengan segala tipu dayanya, Dewi Kilisuci berhasil menghindari pinangan dari kedua raja tersebut. Atas kegagalan dan tipu daya Dewi kilisuci itulah, Lembu Suro, salah satu raja yang tertipu sempat mengucapkan kutukan kepa oranmg Kediri. "Yoh wong Kediri, mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping kaping, yoiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi Kedung. (Ya, orang Kediri besok akan mendapatkan balasanku yang sangat besar. Kediri bakal jadi sungai, Blitar akan jadi daratan dan Tulungagung menjadi danau," kutukan dari Lembu Suro pada saat tertipu oleh Dewi Kilisuci. Dari legenda ini akhirnya masyarakat lereng Gunung kelud melakukan sesaji sebagai tolak balak supah itu yang disebut Larung Sesaji.Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Kesenian dan Kebudayaan Kabupaten Kediri ini, pada tahun 2007 juga menggandeng Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) cabang Kabupaten Kediri. Bagi umat Hindu, digelarnya larung sesaji ini merupakan bentuk persembahan kepada Sang Hyang Widhi dan penguasa di Gunung Kelud sebagai rasa syukur atas segala nikmat yang telah diterima. "Kami berharap setelah menjalankan larung sesaji ini, sirklus kehidupan yang berasal dari gunung sebagai hulu dapoat kembali berjalan normal," kata I Wayan Swarna, Ketua PHDI Jawa Timur. Sementara secara terpisah, Bupati Kediri Sutrisno dalam sambutanya menginginkanritual larung sesaji ini dapat menjadi agenda tahunan yang juga bisa menjadidukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. "Kami pikir ritual larung sesaji ini juga layak dipromosikan ke berbagai daerah,meskipun kegiatanya sangat lokal, karena ritual ini memiliki daya tarik tersendiri," kata Sutrisno.Ritual larung sesaji ini diikuti oleh sedikitnya 3800 peserta, baik dari PHDIKediri, maupun kalangan penganut kepercayaan di Desa Sugihwaras. Ritual juga diikuti oleh penganut Hindu dari berbagai daerah, seperti Bali, Yogyakarta, Surabaya, dan Semarang. Digelarnya ritual larung sesaji yang dimulai pada pukul 10.00 WIB dan berakhir pada pukul 13.00 WIB tersebut sangat mengundang minat masyarakat untukl menyaksikanya. Tak kurang dari 1.000 warga baik dari Kediri maupun dari luar Kediri berjubel di area Gunung Kelud. FOTO: Bebek sebagai perlambang kesucian jadi rebutan warga setelah dilarung/Syamsul Hadi
(gik/gik)











































