Diare di Jember Renggut 4 Nyawa
Senin, 13 Agu 2007 17:00 WIB
Jember -
Penyakit diare di Kabupaten Jember makin menggila. Bahkan penyakit tersebut telah merenggut empat nyawa anak di kota suwar-suwir itu. Sayangnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) belum menerima laporan tentang kematian pasien diare tersebut.Empat pasien diare yang meninggal dunia itu pernah dirawat di RSUD dr Soebandi. Keempat pasien tersebut adalah Fitria (8 bulan) dari Desa Pancakarya Kecamatan Ajung, A Hariyanto (24 hari) warga Desa Patemon Kecamatan Pakusari dan Jumadi (2) warga Kelurahan Wirolegi Kecamatan Sumbersari, ketiganya meninggal dunia di bulanJuni dan Satrio (9 bulan) dari Desa Candijati Kecamatan Arjasa yang meninggal dunia di bulan Juli.Dari data di RSUD dr Soebandi, Jumadi dinyatakan meninggal dunia akibat dehidrasi berat. Sedangkan ketiga pasien lainnya akibat diare yang dibarengi dengan sepsis atau infeksi di seluruh tubuh. Menurut Kepala Staf Ruang Anak RSUD dr Soebandi, Yunita, Jumadi yang mengalami dehidrasi berat terlambat dibawa ke RS sehingga nyawanya tidak tertolong. Sedangkan pasien diare jika diikuti dengan sepsis maka membutuhkan waktu lama untuk penyembuhan dan biasanya dibawa ke RS sudah dalam kondisi kritis.Pasien diare anak yang dirawat inap di RSUD dr Soebandi memang mengalami kenaikan. Dalam bulan Juli lalu terdapat kenaikan pasien hingga 50 persen dari bulan sebelumnya. Jika dalam bulan Juni tercatat hanya 30 pasien, pada bulan Juli lalu tercatat 74 pasien diare yang dirawat inap di RS tersebut. Sedangkan dalam bulan Agustus ini 13 pasien diare yang dirawat di RSUD dr Soebandi. "itu belum yang dirawat di poli, kita hanya mencatat yang dirawat inap," kata Yunita kepada wartawan, Senin (13/8/2007). Menurut keterangan Atik, warga Desa Arjasa Kecamatan Arjasa, anaknya Yasin yang berumur 3 bulan dirawat sejak tiga hari lalu karena diare. "Lumayan berat karena masih bayi untunglah cepat dibawa ke sini jadi cepat dapat perawatan," kata Atik. Sedangkan Reno (2) sejak enam hari lalu terbaring lemah di RS tersebut. "Waktu dibawa ke sini dalam kondisi dare berat, muntah dan berak lebih dari 10 kali," kata ibunya, Ariani.Sementara menurut Kepala Bidang Pencegahan Pemberantasan Penyakit dan Lingkungan Dinkes Jember, dr Bambang Suwartono, penyakit diare merupakan penyakit yang mudah disembuhkan. "Kalau ada yang meninggal berarti terlambat ditangani, karena sebenarnya diare itu mudah disembuhkan," kata Bambang.Saat ditanya tentang laporan meninggalnya pasien diare, Bambang mengaku masih belum menerima laporan tersebut. "Akan kita selidiki dulu. Benarkah mereka meninggal dunia karena diare atau penyakit lainnya," kata Bambang. Salah satu faktor yang menyebabkan naiknya angka penderita diare disebabkan kondisi cuaca yang tidak menentu.
(bdh/bdh)










































