Pengusaha Ikan di Banyuwangi Keluhkan Embargo Cina

Pengusaha Ikan di Banyuwangi Keluhkan Embargo Cina

- detikNews
Rabu, 08 Agu 2007 09:27 WIB
Banyuwangi - Para pengusaha ikan muncar di Banyuwangi Jawa Timur sudah lima hari ini mengeluhkan sikap pemerintah Cina, yang melarang masuknya ikan asal Indonesia ke negaranya.Larangan itu berlaku dengan alasan ikan beku asal Indonesia mengandung zat berbahaya atau mercury.Otomatis, akibat larangan itu para pengusaha ikan muncar yang biasanya mengirim ikan beku ke Cina mengalami jalan buntu. Kini, puluhan ribu dos ikan layur beku yang seharusnya sudah masuk Cina harus kembali ke Banyuwangi dan disimpan kembali di ruang pendingin.Seperti yang dialami salah satu perusahaan muncar yang bergerak di bidang pengiriman ikan beku Cina, David Wijaya mengaku pihaknya sangat merasakan imbas akibat Cina mengembargo ikan beku asal Indonesia.Padahal, lebih dari 70 prosen ikan layur beku yang dikirimnya adalah dengan negara tujuan Cina. Sisanya ke Korea, Eropa dan Australia.David juga menyayangkan Pemerintah Indonesia yang tidak segera mengambil sikap atas permasalahan ini. Sebab, dampaknya bukan hanya pada para pengusaha, selain ratusan ton ikan tidak terkirim dan rugi milyaran rupiah per minggunya, juga berimbas pada menganggurnya para nelayan yang mencari ikan hingga ribuan karyawan pabrik."Padahal di muncar, ada ratusan perusahaan yang juga melakukan pengiriman ikan beku ke Cina," ungkap David kepada wartawan, Rabu (8/8/2007).Hingga saat ini, para pengusaha muncar belum bisa berbuat banyak dengan adanya embargo ikan beku ke negara Cina. Satu-satunya jalan yakni, untuk sementara waktu ribuan dos ikan-ikan beku itu disimpan di ruangan pendingin. Sebab, untuk dilempar ke pasaran dalam negeri ternyata peluang itu sangat kecil lantaran sedikit peminat.Kini, nelayan muncar memilih untuk tidak melaut lantaran ikan hasil tangkapannya hanya sebagian kecil saja yang diterima oleh pihak pabrik. Sebab, dana operasional yang harus dikeluarkan untuk melaut ternyata sudah tidak seimbang lagi dengan penghasilannya. (fat/bdh)
Berita Terkait