TKI Asal Tulungagung Tewas di Arab Saudi
Rabu, 18 Jul 2007 19:09 WIB
Surabaya - Kasus kematian Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri kembali terjadi. Kali ini menimpa seorang wanita asal Tulungagung, yaitu Sundari (36) warga Desa Ketanon, Kecamatan Ngantru, yang meninggal di Riyadh, Arab Saudi.Sundari meninggal pada 6 Juni yang lalu, dan hingga kini pihak keluarga mengaku belum mendapat kepastian kapan jenazahnya akan dipulangkan ke tanah air.Kabar kematian Sundari didapatkan pihak keluarga langsung dari pengacara majikan di Arab Sauidi. Dengan logat bahasa indonesia yang kaku, sang pengacara mengatakan sat itu kondisi Sundari sakit kritis. Namun selang beberapa jam kemudian, sang pengacara kembali menelepon dengan membawa kabar Sundari telah meninggal. Sang pengacara juga meminta pihak keluarga Sundari segera menghubungi nomor yang telah diberikannya. Merasa tidak percaya, serta usaha mendapatkan kepastian, Nurul Huda, salah satu anggota keluarga Sundari segera menelepon guna mencari tahu penyebab pasti kematian keluarganya. Namun jawaban hampa didapatkan.Pihak Rumah Sakit tempat jenazah Sundari ditangani mengatakan, masih dilakukan visum dan hasilnya belum dapat diketahui. "Kami sempat tidak percaya dan segera menelepon, namun kami mendapatkan jawaban Jenazah Mbak Sundari masih divisum dan hasilnya belum dapat diketahui," kata Nurul Huda, salah satu anggota keluarga Sundari, Rabu (18/7/2007) Tidak puas dengan jawaban itu, Nurul Huda segera mengontak pihak PJTKI yang memberangkatkan Sundari, yaitu PT.LUKi yang berlokasi tak jauh dari rumahnya. Namun pihak PJTKI justru mengaku belum mendapatkan kabar kematian Sundari, dan meminta pihak keluarga bersabar. "PT LUKI mengatakan belum mendapatkan kabar kematian Mbak Sundari," lanjut Nurul Huda. Selain kabar sedih tersebut, pihak keluarga Sundari juga masih dipusingkan dengan belum adanya kepastian jenazah Sundari dapat dipulangkan dari Arab Saudi. Sundari nekad merantau ke Arab Saudi untuk menjadi TKW sejak 6 bulan yang lalu, dengan menggunakan jalur resmi. Selama kerja di Tanah Suci tersebut, Sundari hanya sempat menelepon keluarganya sebanyak 3 kali, dan terakhir kali 2 bulan yang lalu, dengan memberikan pengakuan majikannya jahat. Selama 6 bulan itu pula, Sundari juga baru sekali mengirimkan uang hasil erjanya, yaitu sebesar Rp. 1.100.000.
(mar/mar)