Rista Terlahir Tanpa Anus
Minggu, 08 Jul 2007 12:34 WIB
Situbondo - Malang nian nestapa yang dialami pasangan suami isteri Edy Sucipto (30) dan Sahwiyani (25). Pasutri warga Dusun Randu, Desa Sumberkolak, Kecamatan Panarukan, Situbondo, Jatim ini dikarunia seorang anak yang kemudian diketahui tanpa memiliki lubang anus.Rista Habibatul Jannah, kini baru berusia 12 hari. Pasangan keluarga tidak mampu ini hanya terlihat sedih dan kebingunan ketika melihat anak pertamanya itu seringkali menangis dan meronta kesakitan usai dibero ASI. Kegusaran pasangan yang menikah 2 tahun silam itu berubah jadi kepanikan, saat mengetahui ketika putrinya buang air besar keluar melalui kemaluannya. "Masya Allah, ternyata anak saya tidak memiliki anus. Saya sangat terpukul dan tak tega jika melihat anak saya saat berak. Meraung kesakitan," kata Edy Sucipto, saat ditemui detiksurabaya.com, di rumahnya, Minggu (8/7/2007).Dikisahkan oleh pria yang berprofesi sebagai kuli bangunan ini, usia kandungan isterinya saat berlangsungnya persalinan memasuki 8,5 bulan. Semuanya berlangsung normal dan lancar meski berat badan sang bayi ketika itu tak lebih dari 2,5 kilogram."Ibu bidan yang membantu persalinan isteri saya ketika itu malah mengatakan anak saya sehat-sehat saja dan normal. Kami baru mengetahui kelainan itu ketika usia anak saya berusia 10 hari," aku Edy Sucipto pasrah.Keprihatinan pasutri tersebut kian kelam, ketika Tutik, sang bidan yang membantu persalinan isterinya lantas angkat tangan, juga berpasrah atas ketidakmampuannya.Tutik lantas menyarankan keluarga miskin itu untuk memeriksakan bayinya ke RSUD.Namun, lagi-lagi kehampaan harapan yang ditemui Edy Sucipto dan Sahwiyani. Di rumah sakit milik Pemkab Situbondo, bayi mungil itu tidak menemukan jawaban pasti atas derita yang menimpanya, kecuali saran petugas medis -bukan dokter- yang meminta pasutri tersebut untuk memboyong anaknya ke RSUD dr Soebandi Jember."Darimana kami dapat uang untuk biaya operasi anak saya. Wong untuk memeriksa ke bidan dan membawa ke RSUD kami mendapat pinjaman uang dari kerabat dan tetangga. Sekarang pun sepi pekerjaan," urai Edy dengan nada bicara tersekat.Saat ditanya tentang kepemilikan kartu sehat keluarga miskin, jebolan sekolah dasar ini malah tak pernah mendengarnya. Apalagi didata perangkat desa.Kini yang dinanti dan sangat diharapkan dari pasutri ini hanyalah uluran tangan para dermawan dan kepedulian pemerintah untuk membantu meringankan beban derita anak sulungnya. Meski takdir mereka yakini mutlak milik Yang Maha Kuasa, keduanya mengaku akan tegar dan terus berusaha demi kesembuhan buah hatinya, Rista Habibatul Jannah.
(mar/mar)











































