Sumpah Pocong di Tengah Pro Kontra

\'Sejarah Hitam\' Santet di Situbondo (4)

Sumpah Pocong di Tengah Pro Kontra

- detikNews
Jumat, 29 Jun 2007 15:12 WIB
Situbondo - Pelaksanaan sumpah pocong yang sementara dinilai masih mampu meredam gelegak emosi massa terkait tudingan santet, namun sejauh ini sumpah pocong sendiri tidak pernah secara tegas dikenal di khazanah Syari'at Islam. Gelar sumpah pocong yang dilakukan selama ini hanya sekadar Qiyas, atau menyamakan suatu peristiwa atau kejadian di era Rasulullah SAW dengan peristiwa dan atau kejadian sekarang."Islam sama sekali tidak mengatur atau mengajarkan adanya sumpah pocong. Ini(sumpah pocong, red) hanyalah sebuah qiyas, sebagaimana sumpah Li'an yang ada di era Rasullullah dulu," kata KH M Jaiz Badri Masduki,Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, kepada detiksurabaya.com, Jumat (29/6/2007).Pada bagian lain , KH Jaiz mengungkap bahwa Li'an, adalah sumpah yang dilakukan oleh seorang isteri ketika dirinya oleh sang suami dituding selingkuh atau berzina dengan pria lain. Sumpah yang didasari atas nama Allah dengan ancaman laknat. "Sebagaimana kasus santet, untuk sumpah Li'an ini dilaksanakan karena pihak suami tidak bisa atau sulit membuktikan adanya perselingkuhan atau zinah sang suami. Oleh karena itu semuanya dikembalikan kepada Allah SWT sebagai zat Maha Tahu. Ini risiko dan tanggungjawabnya sangat-sangat berat, karena segala urusannya dengan Yang Maha Kuasa," beber KH Jaiz.Nah, sumpah Li'an itulah yang kemudian dijadikan dasar Qiyas oleh sebagian ulama dan kiai untuk melaksanakan sumpah pocong. Meskipun hingga saat ini, pelaksanaan sumpah pocong itu sendiri memicu pro-kontra di kalangan ulama maupun kiai. Baik yang menuduh maupun tertuduh akan terikat pada satu kekuatan sumpah dengan risiko turunnya laknat dari Allah SWT.Fakta tudingan santet yang hingga kini masih dinilai mendarah daging di sebagian masyarakat, tidak juga mampu menepis terus bergulirnya sumpah pocong sebagai media alternatif. "Ini benar-benar fakta yang terjadi di masyarakat yang tidak boleh kita pupus begitu saja. Kita tahu terjadi keresahan dan kegalauan di tengah masyarakat, apakah akan terus diam berpangku tangan. Jadi sumpah pocong masih ampuh untuk meredam anarkis massa," urainya.Yang pasti, bentuk keresahan masyarakat terkait merebaknya isu santet maupundesakan dilaksanakannya sumpah pocong dinilai hanya sebagai muara dari faktor pokok pemicunya. Yakni, rendahnya sumber daya manusia (baca: tingkat pendidikan, red) dan tipisnya rasa keimanan dan keyakinan agama.Dalil ini kian menguat karena hampir semua kejadian aksi anarkis massa kerapmencuat di kantong-kantong masyarakat bertaraf ekonomi lemah dengan tingkatpendidikan warganya yang rendah. "Kalau mereka benar-benar beriman dan meyakiniakan Allah SWT, tak akan pernah terjadi yang namanya isu santet maupun sumpahpocong," tandasnya. (gik/gik)
Berita Terkait