Selain Sumpah Pocong, Eksodus Jadi Pilihan

\'Sejarah Hitam\' Santet di Situbondo (2)

Selain Sumpah Pocong, Eksodus Jadi Pilihan

- detikNews
Jumat, 29 Jun 2007 08:56 WIB
Situbondo - Meski tak semua tudingan miring ke arah pemilik ilmu santet di Desa Kilesari, Kecamatan Panarukan, Situbondo Jawa Timur, berujung pada aksi kekerasan massa, namun stigma terhadap mereka tak pernah bisa terhapus begitu saja.Sebagian besar tertuduh dan keluarganya harus rela hengkang meninggalkan kampung halamannya saat masyarakat 'sepakat' menudingnya sebagai pemilik ilmu teluh.Eksodus dari tanah kelahiran juga dinilai sebagai 'jurus' ampuh untuk meredam emosi massa yang telanjur percaya pada hal supranatural tersebut.Meski tidak strategis yang menimpa Surakna dan keluarganya, nasib Pak Ummu (54) juga tak kalah memprihatinkan. Amuk massa atas tudingan ke arah Pak Ummu tidak dilampiaskan dengan merobohkan dan membakar rumah, namun hanya merusak bagian depan rumah dan memecahkan seluruh kaca jendela."Siapa yang mampu membendung emosi warga ketika mereka telah meyakini kalau penyakit aneh yang menimpa 2 warga ketika itu diyakini ulah Pak Ummu. Berbagai upaya meredam emosi warga dengan berbicara dari hati ke hati, juga tak mampu lagi mencegah niat menggruduk rumah Pak Ummu," beber Jhon Prayudhi (37), tokoh pemuda Kilensari kepada detiksurabaya.com, Jumat (29/6/2007).Ketika jalan sumpah pocong belum begitu populer di tengah masyarakat Desa Kilensari, cara eksodus memang dinilai cukup ampuh. Karena tempat yang dituju sebagai perlindungan sementara dari amuk massa pun, dinilai cukup memungkinkan. Yakni, sebuah lingkungan ponpes cukup terkenal di kawasan Kecamatan Kapongan.Sejak merebak isu santet yang kerap berujung pada aksi anarkis massa di Desa Kilensari serta di beberapa daerah di Situbondo, nama KH Khusyairi Syam, sering dijadikan rujukan. Selain tampil terdepan dalam upaya meredam aksi anarkhis massa, tak sedikit kalangan yang dituding sebagai pemilik ilmu hitam dan keluarganya, mengungsi ke pondoknya. (gik/gik)
Berita Terkait