\'Sejarah Hitam\' Santet di Situbondo (1)
Dugaan yang Berakhir Tragis
Jumat, 29 Jun 2007 07:08 WIB
Situbondo - Selama tiga tahun berselang sedikitnya tercatat 8 orang warga Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan, Situbondo, Jawa Timur, dituding sebagai pemilik ilmu santet. Dari sejumlah pemilik ilmu hitam tersebut, ada yang bernasib tragis karena berhadapan dengan aksi anarkis massa.Namun maraknya tudingan ilmu santet yang dinilai warga setempat sangat meresahkan, beberapa tokoh masyarakat desa setempat mengambil langkah bijak. Yakni, dilakukannya sumpah pocong, sebagai jalan untuk meredam keresahan sekaligus aksi anarkisme.Sejumlah nama yang dalam rentang tiga tahun terakhir dituding sebagai pemilik ilmu santet masing-masing Surakna (65), Ummu (54), Pak Sundari (45), Ustadz Abdurrachman (53), Arjuto alias Pak No (54), Khalik (47), Marsuto (52), Maryono (45) dan Satriya alias Sukardi (56).Dari serentetan tundingan santet terhadap para pemilik ilmu hitam itu kian lengkap jika kita juga melihat para korban 'santet'. Rata-rata mereka yang menjadi korban ilmu hitam itu menuturkan kalau dirinya dijangkiti sejenis penyakit 'aneh'."Perut kian membesar, badan semakin kurus. Padahal hasil pemeriksaan dokteranak saya tak terserang penyakit apa pun. Hampir setiap malam anak saya selaludiburu mimpi buruk dan bayangan Pak Kardi (yang dituduh pemilik santet)," kata Safi (45), bapak korban Cung Enik (27), yang sakitnya divonis telah disantet Sukardi kepada detiksurabaya.com, Jumat (29/6/2007). Daftar panjang pemilik ilmu hitam yang kerap menggemparkan desa perkampungan nelayan tersebut, tak jarang juga berujung pada aksi anarkis massa. Surakna (60), harus rela menghadapi kenyataan pahit, setelah seluruh bangunan rumahnya dirusak dan dirobohkan beramai-ramai ratusan warga pertengahan 2004 silam.Ratusan warga Dusun Pesisir Utara, Desa Kilensari, ketika itu menuding kakek dengan sejumlah cucu itu sebagai penyebab kematian lima warga setempat atas ilmu santetnya itu."Bahkan saking mangkelnya warga, seluruh sisa puing rumah Mbah Surakna juga turut dibakar. Sejak saat itulah Mbah Surakna diusir dari kampung sini dan tak kembali lagi," ucap Supriyono (39), salah seorang tokoh masyarakat.
(gik/gik)











































