Cermin Gagalnya Pendidikan

Prostitusi Pelajar di Kediri (5/Habis)

Cermin Gagalnya Pendidikan

- detikNews
Selasa, 12 Jun 2007 15:42 WIB
Kediri - Maraknya kegiatan prostitusi yang melibatkan pelajar SMU di Kediri sebagai bentuk kegagalan sistem pendidikan. Selama ini pendidikan terlalu mengejar hasil akademik. Pernyataan kritis tersebut disampaikan Lilik Nurhayati, Ketua Divisi Penjualan Anak (trafikking) Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak (KPPA) Kota Kediri. Menurut Lilik, ada banyak alasan mengapa para pelajar itu nekat melacurkan diri. "Alasan terbesar mereka rata-rata ingin mencari uang lebih dan bisa berbelanja sesukanya, seperti gaya hidup," terang Lilik kepada detiksurabaya di markas KPPA Jl Kapten Tendean, Kediri, Jawa Timur, Selasa (12/6/2007). Karena itu, hampir semua para pelajar nakal tersebut berasal dari keluarga menengah ke bawah. Bahkan sebagian lainnya dibesarkan dari keluarga tidak mampu. Demi mengejar impiannya untuk memiliki materi dan fasilitas yang diingankan, mereka rela melakukan apa saja hanya demi mendapatkan uang. Sementara faktor ikutan lainnya menurut Lilik adalah pergaulan dan gaya hidup. Dengan lingkungan bergaul yang serba modern dan bercita rasa tinggi, mereka akan tertuntut untuk selalu bisa mengikuti setiap perubahan, termasuk dalam melakukan seks bebas. Menurut Lilik, gaya hidup pelajar seperti ini tidak lepas dari pengawasan keluarga dan pengajar di sekolah yang sangat pragmatis. Orangtua dan keluarga di rumah seolah-olah hanya bertanggung jawab melakukan pengawasan ketika si anak berada di rumah. Sementara pengajar di sekolah juga merasa sudah menyelesaikan kewajiban memberikan pelajaran akademis. "Ketika persoalan akademis anak bagus, mereka sudah merasa berhasil mendidik anak tanpa melihat perkembangan psikologis yang lain," terang Lilik. Padahal bagi anak-anak itu sendiri, aktivitas belajar di sekolah tak ubahnya sebuah rutinitas yang hanya 10 persen memenuhi otak mereka. Sementara sisa energi dan pikiran mereka bebas berimajinasi tak terarah, termasuk melakukan hubungan seks di usia muda. Lilik menjelaskan, gerbang utama yang bisa menjerumuskan para pelajar itu ke lembah prostitusi adalah ketika mereka berani melakukan hubungan seks dengan pacar atau orang yang dicintai. Hilangnya keperawanan akan menghilangkan beban moral untuk kembali mengulang-ulang perbuatan itu. "Jika melakukan hubungan seks saja mereka sudah senang, apalagi mendapat imbalan uang dan pergaulan yang lebih. Mereka pasti akan sangat menikmati kehidupan itu," ungkap Lilik.Ironisnya, sebagai penebusan dosa kepada orang tua dan keluarga, cukup dengan memberikan nilai akademis yang bagus di sekolah. Jika sudah demikian, gugur pula kewajiban mereka menjadi "anak baik" di tengah keluarga. Karena itu tak heran kebanyakan para pelajar nakal itu justru memiliki nilai akademis yang bagus. Menurut data KPPA Kediri, saat ini terdapat puluhan pelajar sekolah yang menjadi obyek perdagangan (traffiking). Penggerebekan Hotel Crown oleh Satuan Reskrim Polresta Kediri beberapa waktu lalu menjadi satu bukti maraknya perdagangan anak sebagai pemuas nafsu. Dalam penggerebekan itu, setidaknya terdapat 7 PSK yang masih aktif tercatat sebagai pelajar di SLTA Kota Kediri. "Polisi harus bertindak tegas memberantas kejahatan yang tidak berperkemanusiaan ini. Selain meraup keuntungan, para mucikari itu telah merusak masa depan remaja Kota Kediri," kata Lilik. (mar/mar)
Berita Terkait