Diduga Flu Burung, Ribuan Ayam di Situbondo Mati Mendadak

Diduga Flu Burung, Ribuan Ayam di Situbondo Mati Mendadak

- detikNews
Sabtu, 09 Jun 2007 16:30 WIB
Situbondo - Sedikitnya 1.085 ekor ayam milik warga Desa Kukusan, Kecamatan Kendit, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, dalam sepekan terakhir mati mendadak. Dari hasil diagnosa Dinas Peternakan Situbondo, penyebab kematian ribuan ekor unggas itu diduga akibat serangan virus flu burung.Beruntung serangan virus H5N1 tersebut tidak sampai menular ke warga. Sebab hampir seluruh warga pemilik ternak yang terjangkit AI itu mengandangkan ayamnya di halaman serta pepohonan di depan rumahnya. Ditaksir, kerugian akibat matinya ternak ayam milik warga Kukusan itu mencapai ratusan juta rupiah.Serangan virus flu burung itu menyebar dengan cepat di empat dusun. Masing-masing Dusun Potos, Krajan Timur, Krajan Barat dan Dusun Langgar. Namun, ayam yang paling banyak mati akibat serangan virus AI berada di Dusun Potos."Di Dusun Potos tidak kurang dari 600-an ternak ayam yang mati mendadak. Dalam waktu 3 hari saja kami berhasil mendata sebanyak 450 ekor ayam di Dusun Potos yang mati hampir bersamaan," terang Dasim (47), Kaur Ekonomi, Desa Kukusan, saat ditemui detiksurabaya, Sabtu (9/6/2007).Dasim yang juga warga Dusun Potos mengungkapkan, awalnya warga sangat resah dan bingung atas matinya ratusan ayam di dusunnya dalam waktu hampir bersamaan. "Hampir setiap malam atau menjelang pagi, warga dikejutkan bunyi gedhebuk benda jatuh dari atas pohon mangga"."Setelah saya hampiri ternyata 9 ekor ayam yang tidur di atas pohon mangga berjatuhan. Tak lama berselang suara serupa datang dari rumah Pak Remo, yang kemudian diketahui 15 ekor ayamnya bergelimpangan mati. Kejadian serupa selanjutnya terus berlangsung setiap hari," kenang Samijo, 37, warga Dusun Potos.Peristiwa menggemparkan itu dalam waktu sekejap juga melanda Dusun Krajan Barat, Krajan Timur dan Dusun Langgar, meski jumlahnya tidak sebanyak di Dusun Potos. Dari data awal yang semula dilakukan perangkat desa, total jumlah ternak ayam yang mati mencapai 669 ekor. Namun jumlah itu terus membengkak hingga datangnya tim dari Dinas Peternakan dan Dinas Kesehatan.Kekalutan warga atas serangan flu burung pada ternak ayam miliknya bukan saja karena kerugian material yang bakal ditanggungnya. Namun juga ketakutan akan penyebaran serta penularan virus mematikan tersebut kepada pemiliknya. "Saking kalutnya, ada dua warga yang lantas mengungsikan ternak ayamnya ke dalam hutan. Ternyata sia-sia, sekitar 30 ekor ayam milik Pak Maulid dan Pak Suyoto itu juga mati," tutur Dasim.Untuk mengantisipasi penyebaran lebih luas virus flu burung yang menyerang unggas itu, Dinas Peternakan Situbondo dua hari lalu melakukan penyemprotan atau disinfektan serta penyuluhan. Jika sebelumnya warga membuang begitu saja ternak ayamnya yang mati, kini mereka mulai menggali lubang dan membakar bangkai ayamnya kemudian dikubur."Sayangnya penyemprotan tidak dilakukan secara merata. Lingkungan atau kandang ayam yang tidak sempat disemprot Dinas Peternakan, pemiliknya akan diberi obat agar disemprotkan sendiri," kata Suyipno, warga Dusun Krajan Barat.Besarnya kerugian materi yang ditanggung pemilik ternak ayam, memicu harapan akan adanya bantuan ganti rugi. Pasalnya, warga mematok harga ayam miliknya yang mati itu dengan harga rata-rata Rp 12.500 per ekor meski sebenarnya harga di atas itu. "Jika pemerintah mau memberi ganti rugi separuhnya saja, kami sangat gembira. Bagi kami ternak ayam merupakan matapencaharian sampingan yang cukup menghasilkan," cetus Buk Saminah (47), janda beranak empat warga Dusun Langgar. (bdh/bdh)
Berita Terkait