Agus, Bocah 6 Tahun Berbobot 7 Kg
Senin, 21 Mei 2007 17:41 WIB
Kediri - Saat terlahir ke dunia terlihat Agus normal. Namun, saat ini tubuh Agus memiliki keanehan. Di usianya yang mencapai 6,5 tahun, dia hanya memiliki berat badan sebesar 7 kilogram dengan tinggi 80 centimeter. Inilah dialami oleh Rio Agus Pritanto, anak pasangan Nuryanto (35) dan Parwiatun (32), warga Desa Jombangan RT 1 RW 08 Kecamatan Pare Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Meski usianya yang sudah mendekati siswa kelas 1 sekolah dasar (SD), Agus masih belum bisa berjalan. Bahkan untuk berkata-kata saja ia belum mampu. Menurut Nuryanto, pada awalnya putra ketiga yang lahir secara normal ini tidak menunjukkan keanehan apapun. Apalagi saat itu, proses kelahirannya dilakukan di RSUD Pelem Pare Kediri dan ditangani oleh petugas medis."Kelahirannya normal dengan berat badan 2,4 kilogram. Saat itu tidak ada tanda-tanda keanehan pada anak ketiga saya ini," jelas Nuryanto kepada detiksurabaya di RSUD Pelem Pare Kediri, Senin (21/5/2007). Keanehan itu baru terlihat ketika usia Agus memasuki bulan kesembilan. Di saat anak-anak lainnya tumbuh dan membesar, tubuh Agus justru stagnan. Bahkan seolah-olah proses pertumbuhannya berhenti secara tiba-tiba."Karena khawatir, saya membawanya ke RSUD Pelem Pare untuk diperiksa. Saat itulah keanehan lainnya terjadi pada anak saya," jelas Nuryanto. Secara perlahan-lahan, kedua betisnya mulai mengecil. Bahkan saking kecilnya, ukuran betis Agus justru lebih kecil dibandingkan telapak kakinya. Sehingga jika dilihat sepintas, kedua kaki Agus hampir menyerupai kaki bebek.Hal yang sama juga terjadi pada berat badannya. Di saat anak seusianya memiliki berat badan antara 15-20 kg, tubuh Agus hanya seberat 7 kilogram, selisih sedikit dengan usianya saat ini, yakni 6,5 tahun. Saat ini, Agus kembali menjalani perawatan di RSUD Pelem Pare Kediri setelah mengalami panas dan kejang-kejang. Sejak tiga hari terakhir, suhu tubuhnya mencapai 38 derajat celcius. Petugas medis hanya memberikan obat penurun panas dan tambahan cairan melalui infus untuk menjaga kondisi tubuh Agus yang sangat kecil. Beruntung ia terdaftar sebagai pasien JPS di rumah sakit tersebut, sehingga kedua orang tuanya yang sehari-hari bekerja sebagai tukang batu dan penjual telur keliling ini tidak merasa terbebani. Sayangnya, hingga kini belum diperoleh informasi medis terkait kasus yang terjadi pada Agus. Dokter spesialias anak RSUD Pelem Pare, dr Hermanto mengatakan, hingga saat ini pihaknya masih menyelidiki penyebab gangguan pertumbuhan ini. "Kami masih menyelidiki gangguan pertumbuhannya, yang jelas saat ini ia juga terserang selaput otak," jelas dr Hermanto.
(bdh/mar)











































