Pulang Kampung ke Madiun, Kasal Yudo Resmikan Monumen Pesawat Tempur

Sugeng Harianto - detikNews
Minggu, 16 Jan 2022 16:52 WIB
Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Yudo Margono meresmikan monumen pesawat di Taman Kota Asti, Caruban, Kabupaten Madiun. Pesawat tempur yang dibuat monumen jenis Nomad N-24 buatan Australia tahun 1984.
Kasal Yudo meresmikan monumen pesawat tempur
Madiun - Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Yudo Margono meresmikan monumen pesawat di Taman Kota Asti, Caruban, Kabupaten Madiun. Pesawat tempur yang dibuat monumen jenis Nomad N-24 buatan Australia tahun 1984.

"Ini yang dibuat monumen pesawat TNI AL jenis Nomad N-24 buatan Australia tahun 1984. Usianya sudah tua jadi sudah ada pengganti yang lebih canggih," ujar Yudo kepada wartawan usai meresmikan monumen, Minggu (16/1/2022).

Pesawat pengganti yang lebih canggih tersebut, kata Yudo, yakni pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) jenis CN 235. "Yang lebih besar dari ini dan lebih canggih, memiliki indiren lebih lama," kata Yudo.

"Pesawat ini (monumen) memiliki panjang 14,34 meter dengan lebar 16,53 meter, dan telah menyelesaikan masa baktinya di TNI AL pada tahun 2012 lalu," imbuhnya.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Yudo Margono meresmikan monumen pesawat di Taman Kota Asti, Caruban, Kabupaten Madiun. Pesawat tempur yang dibuat monumen jenis Nomad N-24 buatan Australia tahun 1984.Kasal Yudo meresmikan monumen pesawat tempur/ Foto: Sugeng Harianto

Selain meresmikan Monumen Pesawat Nomad N24, Kasal asal Desa Garon, Kecamatan Balerejo, Madiun ini juga meresmikan dua monumen alat utama sistem senjata alutsista bersejarah milik TNI AL. Yakni Tank Amfibi PT-76 Corps Marinir TNI-AL serta Meriam M-30 Howitzer 122 MM di simpang empat Dumpil arah masuk Gerbang Tol Madiun.

"Tank Amfibi PT-76 yang saat ini berada di Exit Tol Dumpil Madiun, merupakan kendaraan lapis baja buatan Uni Soviet tahun 1951, dan masuk jajaran TNI AL pada tahun 1964. Tank Amfibi ini telah digunakan Korps Marinir TNI-AL pada berbagai operasi mulai dari Operasi Dwikora di Kalimantan tahun 1964 sampai 1965, Operasi Seroja di Timor-timur tahun 1975 sampai 1979, hingga operasi pemulihan keamanan di Aceh tahun 2002 hingga 2005," jelas Yudo.

Diceritakan oleh Yudo, Meriam M-30 Howitzer yang juga berada di Exit Tol Madiun merupakan meriam buatan Uni Soviet tahun 1939. "Memiliki kaliber 122 mm. Senjata ini mampu memukul lawan hingga jarak 11,8 km. Senjata artileri Medan yang juga digunakan oleh Korps Marinir TNI-AL sejak 1961 ini juga telah melewati berbagai operasi seperti Trikora, Dwikora dan operasi Seroja," ungkapnya.

Tiga monumen alat utama sistem senjata alutsista bersejarah milik TNI AL di Madiun, diharapkan bisa mengedukasi masyarakat bahwa semua orang bisa menjadi TNI AL. "Semua bisa jadi TNI AL dari desa di Madiun. Ingat daftar gratis ya, kalau ada bayar laporkan saya," imbuhnya.

Dalam kesempatan ini, Bupati Madiun H Ahmad Dawami berterima kasih atas tiga alat tempur yang dijadikan monumen di Madiun. Bupati Madiun yang akrab disapa Kaji Mbing yakin, stigma salah yang menyebutkan Madiun sebagai kandang PKI akan hilang.

"Terima kasih buat Bapak Kasal yang merupakan kelahiran Madiun, kini pulang kampung memberikan hadiah luar biasa. Ini membuktikan bahwa stigma Madiun yang diartikan orang basis PKI itu tidak benar. Selama 12 hari Madiun dikuasai PKI jadi bukan kandang PKI. Semoga bisa bermanfaat untuk warga Madiun," kata Kaji Mbing.

Warga yang berkunjung ke Monumen Pesawat Nomad N24 juga dihibur atraksi pesawat tempur yang melintasi Caruban. (sun/sun)