Dalam Sepekan 3 Pelajar SD di Jatim Meninggal Usai Divaksin COVID-19

Tim Detikcom - detikNews
Selasa, 04 Jan 2022 15:39 WIB
Scientists are done research on vaccine in laboratory with test tubes on Covid19 Coronavirus type for discover vaccine.
Foto: Getty Images/iStockphoto/chayakorn lotongkum
Surabaya - Tiga pelajar sekolah dasar (SD) di Jawa Timur meninggal usai mendapat vaksin COVID-19 dosis pertama. Dua kasus siswa meninggal terjadi di Jombang dan satu siswa di Magetan.

Kasus pertama terjadi di Jombang. Siswa kelas 6 SDN Gedangan, Kecamatan Mojowarno, Jombang meninggal dunia. Sebelumnya siswa tersebut mendapat vaksinasi dosis pertama jenis Pfizer. Sebelum meninggal, bocah berusia 12 tahun itu sempat demam dan muntah.

Bocah itu adalah Muhammad Bayu Setiawan, warga Dusun Bendungrejo, Desa/Kecamatan Jogoroto, Jombang. Bayu masih duduk di bangku kelas 6 SDN Gedangan.

Kepala Desa Jogoroto Sodirin mengatakan Bayu mengikuti vaksinasi COVID-19 untuk anak usia 6-11 tahun di Puskesmas Mojowarno pada Senin (27/12) pagi. Selanjutnya pada tengah malam, Bayu mengalami muntah-muntah.

"Jam 12 malam muntah-muntah, pagi jam 4 (28/12) dibawa ke puskesmas, jam 5 meninggal, dimakamkan sekitar jam setengah 8," kata Sodirin kepada wartawan, Selasa (28/12/2021).

Baca juga: Tiga Siswa SD di Jombang Dipastikan Alami KIPI Setelah Vaksinasi COVID-19

Sementara Komnas KIPI menyimpulkan meninggalnya Muhammad Bayu Setiawan, bukan karena vaksinasi. Kesimpulan hingga saat ini, sulit untuk mengaitkan penyebab kematian karena vaksin COVID-19.

"Jadi kita kan sudah audit bersama Komda KIPI. Hasil investigasi mereka kita berkesimpulan tidak terkait vaksinasi," ujar Ketua Komisi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Prof Dr dr Hinky Hindra Irawan Satari, Sp.A (K), M.TropPaed saat dihubungi detikcom Kamis (30/12/2021).

Dengan begitu, penyebab meninggalnya siswa kelas 6 SD itu hingga kini masih menjadi teka-teki. Belum diketahui penyebab meninggalnya Bayu.

"Dari diskusi tadi audit Komnas KIPI belum bisa menyimpulkan dari mana penyebab meninggalnya. Karena sepertinya sudah meninggal dalam perjalanan," kata Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Jombang Haryo Purwono.

Haryo menjelaskan audit bersama Komnas KIPI tidak sampai membahas apa penyebab meninggalnya Bayu yang sesungguhnya. "Karena data secara medis kan tidak bisa lengkap karena sudah meninggal. Karena meninggalnya dalam perjalanan," terangnya.