Selama Pandemi COVID-19, Pelayanan Kesehatan Wanita Makin Turun

Esti Widiyana - detikNews
Kamis, 02 Des 2021 21:07 WIB
Ketua Pusat Studi Gender dan Inklusi Sosial Unair, Prof Dr Emy Susanti Hendrarso MA
Prof Emy (Foto: Esti Widiyana/detikcom)
Surabaya -

Selama pandemi COVID-19, kualitas layanan kesehatan perempuan mengalami penurunan. Hal ini sesuai hasil Penelitian Pusat Studi Gender dan Inklusi Sosial Unair Surabaya.

"Berkaitan dengan kesehatan perempuan tidak bisa kalau kita tidak berbicara kesehatan reproduksi. Karena hanya perempuan yang bisa hamil dan menyusui, untuk itu kesehatan perempuan membutuhkan perhatian yang spesifik sebab akan berpengaruh pada generasi yang akan datang," kata Ketua Pusat Studi Gender dan Inklusi Sosial Unair, Prof Dr Emy Susanti Hendrarso MA kepada wartawan di Surabaya, Kamis (2/12/2021).

Dia menjelaskan, menurunnya kualitas layanan kesehatan perempuan karena sejumlah faktor. Salah satunya, banyak fasilitas kesehatan kurang difungsikan untuk perempuan dan balita.

Sebab, pelayanan kesehatan perempuan banyak yang tutup dan tenaga kesehatan difungsikan menangani kasus COVID-19.

"Layanan kesehatan untuk perempuan sebelum pandemi saja tidak banyak dan belum optimal, apa lagi sekarang tutup. Bagaimana mereka bisa mengurusi kesehatannya sendiri. Karena kesehatan perempuan juga berdampak pada kesehatan anak dan keluarga," ujarnya.

Namun, Prof Emy memaparkan, dalam penelitian ditemukan jika perempuan tetap bisa mempertahankan kesehatannya, meski mengalami berbagai macam penurunan layanan kesehatan.

Salah satunya dengan memperkuat jaringan sosial lewat modal sosial. Menurutnya, modal sosial yang dimiliki perempuan dengan teman, tetangga hingga kader kesehatan lah yang membantu mereka mendapat layanan kesehatan.

"Modal sosial perempuan itu dia yang punya jaringan kerja, mayoritas sesama perempuan kan punya jaringan kerja lain. Sebagai perempuan hal tersebut adalah sesuatu yang membangun solidaritas sosial. Sehingga ketahanannya tinggi dan perempuan biasa saling tolong menolong," jelasnya.

Tolong-menolong sesama perempuan juga sangat tinggi saat pandemi COVID-19 melanda. Banyak kasus ibu hamil tidak mengetahui kebijakan tes antigen saat akan melahirkan di situasi COVID-19. Namun para kader yang tidak dibayar membantu mensosialisasikan hal ini.

Tak hanya itu, pandemi COVID-19 juga menguatkan jaringan solidaritas perempuan. Selain modal solidaritas, penguatan layanan kesehatan perempuan juga bisa dilakukan dengan meningkatkan kesadaran keluarga inti.

"Kebijakan suami siaga itu sangat baik. Ambulance-ambulance yang disediakan untuk ibu melahirkan itu juga sangat baik," pungkasnya.

(fat/fat)