Sejarawan Bantah Suku Tengger Keturunan Terakhir Majapahit

M Rofiq - detikNews
Rabu, 01 Des 2021 09:12 WIB
Suku Tengger Disebut Keturunan Terakhir Kerajaan Majapahit
Suku Tengger keturunan terakhir Majapahit (Foto: M Rofiq/detikcom)
Probolinggo -

Suku Tengger merupakan salah satu suku Jawa yang hidup di lereng Gunung Bromo. Konon suku ini merupakan keturunan Kerajaan Majapahit terakhir yang masih hidup hingga saat ini.

Hal ini tidak lepas dari sosok Roro Anteng yang disebut-sebut sebagai putri dari Raja Majapahit, Brawijaya yang mengungsi ke wilayah Tengger akibat serangan kerajaan Demak yang dipimpin Raden Patah pada abad ke 16 Masehi.

Beberapa kisah, juga menceritakan Roro Anteng mengungsi ke wilayah Tengger saat terjadi konflik perebutan kekuasaan antara Wikramawardhana dan Bhre Wirabhumi pada tahun 1405-1406 Masehi.

Roro Anteng kemudian menikah dengan putera Brahmana bernama Joko Seger, dan nama keduanya kemudian diabadikan sebagai nama Suku Tengger, yakni 'teng' dari Roro Anteng dan 'ger' dari Joko Seger.

Sehingga muncul anggapan bahwa Suku Tengger merupakan keturunan dari Roro Anteng dan Joko Seger, sekaligus warga kerajaan Majapahit terakhir yang masih hidup.

Baca juga: Suku Tengger Disebut Keturunan Terakhir Majapahit

Namun apakah benar keberadaan Suku Tengger ini baru ada setelah Kerajaan Majapahit berdiri? Berikut ulasannya.

Eko Arahman, sejarawan dan pengamat sejarah Probolinggo mengatakan, keberadaan Suku Tengger sudah ada jauh sebelum Kerajaan Majapahit berdiri.

"Kalau dibilang warga Tengger ada kaitan dengan Kerajaan Majapahit, Iya. Tapi jika dibilang keturunan Majapahit terakhir kami jawab bukan. Sebab, sebelum ada Kerjaan Majapahit, Suku Tengger ini sudah ada," kata Eko saat ditemui detikcom di lereng Bromo, Rabu (1/12/2021).

Hal ini dikuatkan dengan bukti sejumlah prasasti yang menyebutkan keberadaan Suku Tengger. Salah satunya prasasti Penanjakan Satu, prasasti peninggalan Raja Majapahit Hayam Wuruk.

"Dalam Prasasti Penanjakan Satu, menerangkan bahwa masyarakat Tengger itu adalah masyarakat yang mampu mempertahankan Budaya Tengger. Prasasti itu dikeluarkan oleh prabu Hayam Wuruk pada Tahun 1350-1389 Masehi. Artinya sejak zaman Hayam Wuruk sudah ada Suku Tengger," jelasnya.

Selain prasasti penanjakan satu, kisah tentang Suku Tengger juga diabadikan dalam prasasti-prasasti peninggalan Majapahit lainnya. Seperti Prasasti Malanggit dan Prasasti Regulo. "Prasasti Malanggit ini ada di Malang Selatan, juga peninggalan Raja Hayam Wuruk. Juga ada Prasasti Regulo di Semeru," katanya.

Prasasti-prasasti ini, kata Eko, merupakan sumber sejarah primer tentang Kerajaan Majapahit. "Artinya jika merujuk pada Prasasti tersebut, Suku Tengger sudah ada jauh sebelum peristiwa Perang Paregreg. Tengger kalau dibilang pelarian Majapahit salah. Tengger ada jauh sebelum itu," tambahnya.

Lihat juga video saat 'Suku Tengger Gelar Yadnya Kasada di Tengah Suhu Ekstrem Bromo':

[Gambas:Video 20detik]



(fat/fat)