Baju Pengantin Bekasri Khas Lamongan Gaya Busana Raja-Permaisuri Majapahit

Baju Pengantin Bekasri Khas Lamongan Gaya Busana Raja-Permaisuri Majapahit

Eko Sudjarwo - detikNews
Kamis, 25 Nov 2021 09:38 WIB
Pengantin Bekasri Khas Lamongan
Pengantin Bekasri khas Lamongan (Foto: Eko Sudjarwo/detikcom)
Lamongan - Tata rias dan busana dalam pernikahan salah satu bagian terpenting. Para pengantin akan berhias bak raja dan ratu dalam sehari. Riasan dan busana di Indonesia banyak ragamnya. Tak terkecuali di Lamongan.

Mengapa pengantin di Lamongan memakai busana bak raja dan ratu atau permaisuri? Hal ini disebabkan daerah Lamongan merupakan wilayah yang dekat dengan Ibu Kota Majapahit. Maka busana yang ditiru dengan sendirinya adalah busana raja dan permaisuri Majapahit.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lamongan Siti Rubikah mengatakan tradisi memakai busana raja dan permaisuri Majapahit, tergolong dalam tradisi pengantin Bekasri. Bekasri adalah akronim Bahasa Jawa, yakni bek artinya penuh dan asri yang berarti indah.

"Bekasri berasal dari kata bek dan asri, bek berarti penuh, asri berarti indah atau menarik. Jadi bekasri berarti penuh dengan keindahan yang menarik hati," kata Siti Rubikah kepada detikcom, Kamis (25/11/2021).

Dia menyebut pada dasarnya pengantin bekasri dijadikan 4 tahap. Tahap mencari mantu, tahap persiapan menjelang peresmian pernikahan, tahap pelaksanaan peresmian pernikahan dan tahap setelah pelaksanaan pernikahan.

"Semua kegiatan masing-masing tahapan ini dilaksanakan secara penuh, namun juga bisa dilaksanakan kegiatan-kegiatan yang dianggap penting dan disesuaikan dengan situasi kondisi lokal setempat," ujarnya.

Pada tahapan pelaksanaan kegiatan, kedua pengantin jadi pusat perhatian semua tamu yang hadir. Pengantin perlu dirias dan diberi busana yang lain dari busana sehari-hari. Busana yang dipakai pengantin khas Lamongan ini dikenal masyarakat dengan sebutan busana Bekasri.

"Tata rias dan busana pengantin bekasri memiliki keunikan tersendiri yang pada dasarnya meniru busana raja dan permaisuri atau busana bangsawan," ujarnya.

"Tata rambut, model hiasan bunga, cara berpakaian, dan beberapa assesoris yang digunakan pada pengantin Bekasri mirip dengan tata busana dan assesoris yang digunakan pada masa Majapahit. Hal ini menunjukkan bahwa tata busana pengantin Bekasri mencontoh tata busana raja atau bangsawan kerajaan Majapahit atau kerajaan sebelumnya yaitu Kerajaan Singasari," jelasnya.

Dalam pakem Bekasri, dua mahkota baik mempelai pria maupun wanita dihiasi cunduk mentul atau kembang goyang terlihat bergoyang saat berjalan. Itu menggambarkan kegembiraan d iantaranya kedua mempelai.

Kedua mempelai juga memakai sumping (mawar melok), untaian bunga melati dan memakai kalung bertahtakan permata bermotif lung-lungan (Pohon gadung) selur yang banyak didapati sebagai hiasan makam atau gapura Sendang Dhuwur.

"Warna dasar baju pengantin yang berwarna hijau menyimbolkan kemakmuran, sedangkan hiasan warna kuning keemasan menyimbolkan kejayaan dan kewibawaan," terangnya. (fat/fat)