Cerita di Balik Koleksi Keranda Mayat, 43 Warga Meninggal Dalam 47 Hari

Adhar Muttaqin - detikNews
Sabtu, 20 Nov 2021 17:58 WIB
hobi aneh warga tulungagung
Keranda Mayat koleksinya (Foto: Adhar Muttaqin/detikcom)
Tulungagung - Sutarji warga Desa Aryojeding, Tulungagung juga memiliki koleksi keranda mayat di museum pribadi miliknya. Rupanya keranda mayat itu menyimpan cerita dari kota asalnya. Konon keranda itu tidak dipakai lagi gegara terjadi rentetan 43 kejadian kematian dalam kurun waktu 47 hari.

Sutarji mengatakan keranda mayat berwarna putih tersebut didapatkan dari salah satu desa di Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar. Kereta jenazah yang dilengkapi empat roda itu awalnya digunakan untuk pengangkutan mayat warga, dari rumah duka menuju liang lahat.

Dalam masa penggunaannya terjadi kejadian yang dinilai aneh masyarakat setempat. Sebab dalam waktu kurang dari 2 bulan terjadi puluhan kasus kematian.

"47 Hari ada 43 orang yang meninggal dunia. Akhirnya keranda itu tidak dipakai lagi. Sudah tidak berani pakai lagi, dibuang di makam," kata Sutarji.

Mendengar cerita itu, Sutarji akhirnya meminta izin untuk merawat keranda mayat tersebut dan dibawa ke rumahnya di Desa Aryojeding, Kecamatan Rejotangan, Tulungagung. Namun ternyata upaya membawa keranda itu tidaklah mudah.

hobi aneh warga tulungagungHobi aneh warga Tulungagung/ Foto: Adhar Muttaqin

Dia sempat mencari bantuan mobil pikup untuk mengangkut, namun sang sopir tidak berani. Bahkan saat upah yang ditawarkan dilipat gandakan dua kali, tetap tidak berani.

"Saya kasih Rp 500 ribu enggak mau, saya kasih Rp 1 juta juga enggak berani. Katanya uang segitu banyak dan cukup, tapi kalau yang diangkut keranda mayat ini tetap tidak berani," jelasnya.

Sutarji kemudian mencari angkutan truk, namun kendala yang dihadapi tetap sama. Sang sopir juga tidak berani mengangkut keranda mayat itu.

"Karena tidak ada yang berani, akhirnya saya nekat membawa sendiri dengan ditarik pakai sepeda motor Beat. Iya, dari Wlingi Blitar sampai rumah sini," jelasnya.

Koleksi keranda mayat tersebut sempat diletakkan di depan rumahnya, namun beberapa orang merasa takut, sehingga gang di depan rumah Sutarji sepi. "Awalnya itu di depan, lama-lama gang ini kok sepi, ternyata gara-gara itu. Akhirnya saya masukkan ke rumah," ujarnya.

Kini, di rumah sekaligus museum pribadinya itu Sutarji memiliki lima unit keranda mayat, belasan tali pocong, helm dan pakaian orang kecelakaan, serta ribuan koleksi benda-benda kuno lainnya. (fat/fat)