Viral Cabai Rawit Satu Pikap Dibuang ke Sungai Diduga di Bondowoso

Chuk S Widarsha - detikNews
Minggu, 14 Nov 2021 12:18 WIB
viral cabai dibuang ke sungai
Viral cabai rawit dibuang ke sungai (Foto: Tangkapan layar)
Bondowoso -

Dua orang membuang cabai rawit ke sungai viral. Video pembuangan cabai ke sungai tersebut viral.

Video berdurasi 30 detik itu memperlihatkan dua orang sedang membuang cabai rawit merah ke dalam sungai yang mengalir. Cabai itu sendiri sebanyak satu pikap. Cabai itu diletakkan di bak pikap yang dialasi terpal.

Dengan menggunakan tangan, dua orang tersebut mengeser cabai di bak pikap dengan tangan dan menumpahkannya ke aliran sungai. Video itu diberi caption menempel yang bertuliskan 'gembel Bondowoso ini bosss' dan 'Ettotak lah boss (sudah dituang/dbuang bos).

Belum diketahui dengan pasti video itu berlokasi di mana. Tetapi jika dilihat dari bahasa Madura yang digunakan, mengindikasikan bahwa itu merupakan dialek Madura di daerah Bondowoso dan sekitarnya.

Masduki (51), salah seorang petani cabai di Bondowoso mengatakan jika video viral itu terjadi di Kota Tape, itu sangat masuk akal. Karena saat ini banyak cabai yang rusak. Pun harganya anjlok.

"Saya memang sempat lihat tayangan itu. Kalau itu terjadi di Bondowoso, masuk akal sekali. Karena memang (cabai) banyak yang rusak," kata Masduki saat dihubungi detikcom, Minggu (14/11/2021).

Menurut Masduki, rusaknya tanaman cabai petani saat ini disebabkan cuaca yang tak menentu. Yakni, curah hujan yang sangat tinggi. Pagi, siang, dan malam. Dan itu tak bisa diprediksi.

"Ini yang saya bilang, mungkin petani salah memperkirakan cuaca. Biasanya, bulan November memang hujan. Tapi tak sebesar seperti bulan ini," imbuh Masduki, yang mengaku bulan ini menanam cabai di lahan lebih dari 2 hektare.

Hal Senada disampaikan Heri (50), petani cabai warga Jebung Kidul, Tlogosari. Selain rusak, harga cabai di tingkat petani di Bondowoso juga murah. Hanya kisaran Rp 2 ribu per kilogram.

"Harga segitu, jangankan untung. Kembali modal saja tidak. Malah rugi kalau ditambah biaya operasional memanen dan transportasi," kata Heri.

Simak juga 'Heboh Siswa di Gorontalo Bergelantungan di Jembatan Demi ke Sekolah':

[Gambas:Video 20detik]



(iwd/iwd)