Banjir Batu Pacitan di Mata Warga, Antara Musibah dan Berkah

Purwo Sumodiharjo - detikNews
Minggu, 14 Nov 2021 08:04 WIB
banjir batu di pacitan
Warga mengumpulkan batu saat banjir batu dan kemudian menjualnya (Foto: Purwo Sumodiharjo)
Pacitan - Selalu ada hikmah di balik tiap peristiwa. Filosofi itu seakan dipegang teguh warga Desa Karangrejo, Kecamatan Arjosari. Pun saat banjir batu sempat memutus akses mereka ke desa tetangga. Saat bersamaan, rezeki datang dari bongkahan-bongkahan batu yang terbawa aliran sungai.

"Istilahnya itu musibah membawa berkah," ucap Kasilah, warga setempat saat berbincang dengan detikcom di lokasi banjir batu, Minggu (14/11/2021).

Sejak pagi perempuan 41 tahun itu tak pindah dari bibir sungai. Tangannya yang kokoh tampak mengangkat batu sebesar dua kepala manusia. Dengan sedikit terhuyung dia membawanya ke tepi jalan tempat tumpukan batu lain berada. "Bruk!" bunyi benturan terdengar seiring helaan napas Kasilah.

"Ya alhamdulillah, sedikit-sedikit dapat hasil," katanya sembari turun kembali ke sungai.

banjir batu di pacitanFoto: Purwo Sumodiharjo

Warga lain yang turut memetik untung dari banjir batu adalah Ponijah (61). Meski usianya tergolong tak lagi muda, namun dirinya enggan berpangku tangan. Apalagi sebagai ibu rumah tangga, kesempatan mengumpulkan pundi rupiah seperti ini tak mudah didapatkan. Paling setahun sekali. Tepatnya saat musim hujan.

Persiapan pun sudah dia lakukan dengan matang. Tak hanya membekali diri dengan sepatu karet, kedua tangan Ponijah juga tertutup sarung tangan berbahan kain. Dia pun leluasa menyisir tumpukan lumpur sembari merabanya untuk mendapatkan bongkahan batu.

Tak dapat dimungkiri, pendapatan para pencari batu ini tergolong besar. Terlebih saat banjir pertama, atau saat awal musim hujan. Tak sampai setengah hari, satu orang dapat menghasilkan 3 kubik batu. Biasanya saat zuhur mereka beristirahat dan dilanjutkan kembali sore harinya.

Mereka pun tak perlu repot menawarkan layaknya dagangan di pasar. Kendaraan angkutan jenis truk datang menghampiri tumpukan yang sudah siap diambil. Untuk volume satu dump truk atau setara 4 kubik dihargai Rp 300 ribu. Sedangkan untuk truk engkel setara 2 kubik harganya Rp 150 ribu.

banjir batu di pacitanFoto: Purwo Sumodiharjo

"Nggih lumayan saget tumbas wos (Ya lumayan bisa beli beras)," tutur Ponijah senang.

Selama hampir tiga jam detikcom berada di lokasi, ada beberapa truk datang silih berganti. Sebagian besar berupa jenis engkel. Kendaraan jenis ini mengangkut batu kecil. Kurang lebih berdiameter 10 sentimeter. Adapun kendaraan pengangkut jenis dump truk memilih bongkahan-bongkahan besar. Biasanya untuk kebutuhan bangunan.

Banjir batu yang terjadi di kali Brungkah, Desa Karangrejo merupakan fenomena tahunan. Hal itu terjadi karena material berupa batu bercampur lumpur terbawa aliran air sungai. Itu biasanya terjadi saat hujan deras mengguyur kawasan Gunung Parangan yang merupakan hulu sungai.

Simak video 'Penampakan Fenomena Banjir Batu 'Hantui' Jalan di Pacitan':

[Gambas:Video 20detik]



(iwd/iwd)