Obrolan Hangat Puan dengan Petani di Banyuwangi Saat Panen Padi

Ardian Fanani - detikNews
Jumat, 12 Nov 2021 18:29 WIB
puan maharani panen padi di banyuwangi
Puan Maharani panen padi di Banyuwangi (Foto: Ardian Fanani/detikcom)
Banyuwangi - Ketua DPR RI Puan Maharani bertemu para petani di areal persawahan Dewi Rembang, Desa Banjar, Kecamatan Licin, Banyuwangi. Ia turut serta memanen padi jenis Inpari 32 sampai jenis Black Madras (padi hitam).

Puan dengan lancar menggunakan sabit untuk memotong helaian padi di pematang sawah, Jumat (12/11/2021). Sembari mengobrol hangat dengan para petani perempuan, Puan sangat menikmati kegiatan panen itu.

"Sampean medamele nopo (Anda bekerja apa)?" sapa Puan berbahasa Jawa. Dijawab Siti Munawaroh, "Buruh tani," jawab Siti yang sedang memanen padi bersamanya.

"Laute jam pinten (Selesainya jam berapa)? "Jam 12," jawab para perempuan petani itu dengan kompak.

"Sawah di Desa Banjar, Dusun Rembang, Kecamatan Licin ini adalah bukti nyata bahwa kegiatan pertanian kita itu memiliki potensi besar untuk dijadikan agrowisata," kata Puan.

Perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR itu mengatakan, persawahan di Licin memperlihatkan bagaimana proses mengolah tanah hingga panen bisa menjadi atraksi wisata yang bagus. Oleh karenanya, Puan mendorong pertanian di daerah lain bisa menjadikan kegiatan tani di Licin ini sebagai contoh.

"Agrowisata seperti ini bisa menjadi keunggulan pariwisata Indonesia karena kita memilki banyak lahan pertanian dan perkebunan," tuturnya.

Puan pun memuji masyarakat Banyuwangi yang solid menjadikan kegiatan pertanian sebagai hal membanggakan. Ia menyebut, upaya masyarakat Banyuwangi melestarikan kebudayaan patut diacungkan jempol.

"Kegiatan di sini dilakukan dengan semangat gotong royong, kolaborasi dengan petani. Tanam sama-sama, panen sama-sama, produktivitas naik, juga mengangkat tradisi lokal bagaimana membajak tanah, dan menanam," ucap Puan Maharani.

"Tapi masyarakat Banyuwangi juga terbuka dengan perkembangan zaman, melakukan pertanian modern menggunakan transplenter rice. Artinya petani di agrowisata bukanlah penonton tapi pelaku," lanjut mantan Menko PMK itu.