Pakar Sebut Kecelakaan di Tol Bukan soal Beton atau Aspal, Tapi Kecepatan

Esti Widiyana - detikNews
Jumat, 05 Nov 2021 23:15 WIB
Dosen Departemen Teknik Infrastruktur Sipil, Fakultas Vokasi ITS, Dr Machsus ST MT justru membantah anggapan  tersebut. Menurutnya, setiap perkerasan jalan, resistance dan gesekannya berbeda-beda. Tapi ketika digunakan untuk perkerasan jalan, semestinya sudah memenuhi standar minimal layak uji fungsi.
Dosen Departemen Teknik Infrastruktur Sipil, Fakultas Vokasi ITS, Dr Machsus ST MT/Foto: Istimewa
Adanya pembatas beton di tengah tol memang memiliki risiko lebih besar pada saat kecelakaan. Akan tetapi, adanya pembatas bukan untuk ditabrak, melainkan membantu agar tidak terjadi crossing.

"Masing-masing lajur terpisah. Beberapa studi antara jalan divided dan individed. Antara ada asparator (pembatas) dan tidak ada pembatas itu risiko lebih besar potensi kecelakaannya kalau jalan tidak ada pembatas. Asparator bukan untuk ditabrak," katanya.

Lalu, apakah tol di Indonesia aman dilewati dengan kecepatan tinggi? Ia menjelaskan, kaidah pembangunan jalan tol sudah mengikuti standar yang ada. Berdasarkan standar taraf internasional pun juga sama.

"Di Indonesia diterjemahkan sesuai dengan kelembagaan yang berwenang. Substansinya sama, maka jalan itu, jalan tol dioperasikan kalau memenuhi standar. Sebelum uji layak fungsi tidak boleh. Bukan hanya jalan tol, jalan arteri tidak berbayar pun harus lolos uji layak fungsi," jelas.

Perbandingan konstruksi jalan tol beton dan aspal dinilai relatif sama. Perbedaannya adalah ketahanan bahan tersebut. Jika beton lebih lama dan aspal lebih cepat untuk membutuhkan perawatan. Oleh karena itu, semua tol di Indonesia menggunakan skid resistance.

"Kenapa ada pergerakan jalan beton? Karena materialnya. Masing-masing punya keunggulan dan kelebihan beton lebih awet umurnya 40-50 tahun. Ketika pergerakan fleksibel aspal sekitar 5-10 tahun harus dilakukan banyak perawatan. Kalau jalan tol banyak terganggu oleh perbaikan rutin, maupun perbaikan insidentil akan mengganggu jalan tol. Sehingga banyak jalan tol yang hampir semuanya menggunakan skid resistance. Yang penting bagaimana batas kecepatan bisa ditaati pengguna jalan," pungkasnya.


(sun/bdh)