Pascakecelakaan Vanessa Angel, Pakar Transportasi Jelaskan Pentingnya Seat Belt

Esti Widiyana - detikNews
Jumat, 05 Nov 2021 18:56 WIB
Potret Mobil Remuk dan Evakuasi Kecelakaan Maut Vanessa Angel (Dok. Ditlantas Polda Jatim)
Foto: Potret Mobil Remuk dan Evakuasi Kecelakaan Maut Vanessa Angel (Dok. Ditlantas Polda Jatim)
Surabaya -

Kecelakaan di Tol Jombang menewaskan Vanessa Angel dan suaminya pada Kamis (4/11). Vanessa yang duduk di bangku tengah mobil diduga tidak mengenakan seat belt.

Seperti yang disampaikan Pakar Transportasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ir Hitapriya Suprayitno. Menurutnya, tidak mengenakan sabuk pengaman bisa menambah resiko ketika terjadi kecelakaan.

"Kemungkinan tidak memakai sabuk pengaman di tengah, bisa sampai terpental. Sangat bisa tergantung kecepatan dan nabraknya gimana. Makanya kalau di negara maju itu seat belt harus pakai depan belakang," kata Hitapriya saat dihubungi detikcom, Jumat (5/11/2021).

Ia menyayangkan kebiasaan penumpang mobil di Indonesia. Menurutnya, masih banyak yang tak sadar akan upaya menjaga keselamatan. Di negara maju, anak usia 3 tahun harus memakai kursi khusus dan diikat ke tempat duduk. Lalu tempat duduknya ada seat belt untuk anak.

"Penting sekali pakai seat belt. Harus, itu kalau di Jepang saat naik bus harus memakai seat belt. Padahal bus kecepatannya dibatasi, tidak boleh melebihi 80 km/jam. Pelan saja harus pakai seat belt. Ini untuk menggambarkan kalau seat belt itu penting sekali," jelasnya.

Hitapriya berpesan kepada masyarakat untuk mengikuti aturan yang ada di jalan tol. Seperti tidak mengemudi dengan kecepatan lebih dari 100 km/jam.

"Rakyat Indonesia kan baru punya jalan tol baru-baru ini. Sehingga kemaruknya anak muda nyetir di jalan tol dengan kecepatan 160 km/jam difoto, dipamer-pamerkan itu tidak baik. Kenakalan seperti itu bisa bahaya," tuturnya.

"Kalau jalan tol ikuti kecepatan aturan, terus hati-hati jalan tol itu mudah ngantuk. Hati-hati kita tidak sadar kecepatannya tinggi, harus hati-hati pada hal itu," tambahnya.

Ia juga menegaskan, jalan tol itu tidak berbahaya. Namun akan menjadi bahaya ketika lalai saat berkendara. Menurutnya Indonesia memerlukan tol agar tidak tertinggal oleh negara tetangga.

"Tolong jalan bilang jalan tol berbahaya. Yang berbahaya itu kelakuan orangnya. Terus satu lagi, jalan tol sangat perlu, karena kita masih sangat ketinggalan kalau dibandingkan Malaysia, Singapura dan lainnya. Kita harus punya jalan tol, tapi kalau sudah punya jangan orangnya kemaruk dan tidak hati-hati," pungkasnya.

(sun/bdh)