Korban Pencabulan Pengasuh Ponpes di Mojokerto Bertambah Jadi 4 Santriwati

Enggran Eko Budianto - detikNews
Rabu, 27 Okt 2021 17:42 WIB
Santriwati yang dicabuli pengasuh Ponpes di Mojokerto, AM (52) bertambah menjadi empat. Semua korban tergolong anak-anak, dua di antaranya kakak-adik asal Surabaya.
Pengacara para korban, M Dhoufi/Foto: Enggran Eko Budianto/detikcom
Mojokerto -

Santriwati yang dicabuli pengasuh Ponpes di Mojokerto, AM (52) bertambah menjadi empat. Semua korban tergolong anak-anak, dua di antaranya kakak-adik asal Surabaya.

Pengacara para korban, M Dhoufi mengatakan, tiga korban baru merupakan gadis berusia 12 tahun asal Lamongan, serta kakak-adik berusia 12 dan 10 tahun asal Surabaya.

"Ada tambahan tiga korban, total sampai sekarang ada 4 korban. Tiga korban baru dalam pengakuan awal dicabuli saja oleh tersangka. Para korban sudah dimintai keterangan, sudah di-BAP juga oleh penyidik," kata Dhoufi kepada wartawan, Rabu (27/10/2021).

Pencabulan tersebut, lanjut Dhoufi, diduga dilakukan AM di asrama santri putri menjelang tengah malam. Menurut dia, tersangka diduga mendatangi korban yang sedang tidur pulas untuk melancarkan aksinya.

"Bujuk rayunya santriwati disuruh taat terhadap gurunya supaya mendapatkan berkah dari kiai atau ustaz," terangnya.

Sedangkan korban pertama adalah santriwati asal Kecamatan Buduran, Sidoarjo. Gadis berusia 14 tahun 8 bulan itu diduga dicabuli sekaligus diperkosa oleh AM sejak 2018 sampai 2021.

Modusnya, AM diduga mencabuli korban yang tidur pulas di asrama santri putri, menjelang tengah malam. Saat korban terbangun, tersangka lantas mengajaknya ke kamar kosong di bagian belakang asrama.

AM meminta dipijat oleh korban di kamar tersebut. Selanjutnya tersangka memerkosa korban. Untuk melancarkan aksinya, ia meminta korban menuruti kemauannya agar mendapatkan berkah dari guru. Selain itu, ia juga mengiming-imingi akan memperistri korban.

"Kalau korban pertama sejak 2018 sampai 2021 hampir tiap bulan diperlakukan seperti itu," ungkap Dhoufi.

Sampai sore ini, Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Gatot Repli Handoko belum bisa dikonfirmasi terkait perkembangan kasus tersebut. Gatot tidak merespons saat dihubungi detikcom melalui sambungan telepon maupun pesan WhatsApp.