Penyakit Kritis Sebabkan Kematian Didominasi Masyarakat yang Kurang Berolah Raga

Esti Widiyana - detikNews
Senin, 25 Okt 2021 14:39 WIB
Ketua Pusat Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Dr Moch Purnomo MKes
Ketua Pusat Keolahragaan Unesa Dr Moch Purnomo (Foto: Istimewa)
Surabaya -

Banyak masyarakat menderita penyakit kritis hingga menyebabkan kematian. Penyebab penyakit ini didominasi masyarakat yang kurang olahraga dan beraktivitas fisik.

Ketua Pusat Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Dr Moch Purnomo MKes memaparkan tingginya angka kematian karena penyakit kritis, salah satunya disebabkan masyarakat yang masih tidak aware terhadap kesehatan dan kebugarannya. Banyak masyarakat yang tidak menyadari, biaya perawatan penyakit kritis seperti stroke, jantung hingga kanker tidaklah murah.

"Faktor penyebab penyakit kritis mayoritas karena kebiasaan merokok, tekanan darah tinggi dan kurang olahraga. Selain itu juga karena asupan garam berlebih, gula darah tinggi, obesitas dan masih banyak lagi. Salah satu penyakit kritis yang banyak diderita masyarakat adalah stroke atau terjadinya gangguan pembuluh darah otak yang sifatnya mendadak," kata Purnomo melalui webinar "Pencegahan Stroke dan Peningkatan Derajat Aktivitas Fisik Civitas Academica Unesa", Senin (25/10/2021).

Untuk mengurangi risiko penyakit kritis, termasuk stroke, salah satu yang bisa dilakukan adalah rutin berolahraga atau melakukan aktivitas fisik. Sesuai anjuran WHO, aktivitas fisik yang dianjurkan yaitu 150 menit per minggu dengan intensitas sedang.

Unesa pun mendorong civitas academica untuk berolahraga, dengan mewajibkan materi pendidikan jasmani pada seluruh fakultas.

"Berdasarkan data dari BPS, tingkat aktivitas fisik masyarakat Jawa Timur berada di urutan tiga dari bawah, dan itu cukup memprihatinkan. Untuk meningkatkan aktivitas fisik dan agar masyarakat Jawa Timur senang bergerak dan berolahraga, Gubernur Jawa Timur juga langsung bekerja sama dengan Unesa untuk menggerakkan masyarakat," jelasnya.