Pohon Kelapa Bercabang 8 di Pacitan Diburu untuk Obat-Ditawar Belasan Juta

Purwo Sumodiharjo - detikNews
Minggu, 17 Okt 2021 10:33 WIB
pohon kelapa bercabang 8 di pacitan
Pohon kepala bercabang 8 (Foto: Purwo Sumodiharjo/detikcom)
Pacitan -

Pohon kelapa bercabang 8 di Desa Ploso, Kecamatan Punung tak sebatas membuat takjub yang melihat. Banyak orang sengaja datang berburu buahnya. Kelapa hijau tersebut diyakini berkhasiat menyembuhkan sejumlah penyakit.

"Itu dulu ada (yang datang). Tapi saya ndak tahu untuk obat apa. Kalau ndak salah orang Ponorogo," ujar Tukirin, pemilik pohon kelapa kepada wartawan, Minggu (17/10/2021).

Tukirin sendiri tidak sempat menanyakan jati diri orang tersebut. Pun dia tidak menanyakan kelapa pang diminta hendak digunakan untuk pengobatan penyakit apa. Yang dia ingat, orang yang bertamu ke rumahnya mengaku berasal dari Sampang, Madura. Namun yang bersangkutan tinggal di Kota Reog.

"Kebanyakan yang datang dari luar kota," imbuhnya.

Pada kesempatan lain, ada lagi tamu yang datang ke rumah Tukirin. Pria yang mengaku warga Jakarta itu menyampaikan keinginannya membeli tanaman tersebut. Selanjutnya pohon kelapa akan dipindahkan ke ibu kota.

Meski ada iming-iming uang belasan juta rupiah, namun Tukirin bergeming. Dirinya tidak tergiur menjual pohon kelapa setinggi 8 meter yang tumbuh tak jauh dari rumahnya. Alasannya pun sederhana. Dia tak ingin mengecewakan mereka yang datang untuk melihat pohon kelapa bercabang 8.

"Sekitar 2 tahun yang lalu sudah ditawar Rp 15 juta. Tapi saya bilang ini ndak saya jual," tegasnya.

Sebelumnya, sebatang pohon kelapa tumbuh dengan 8 batang. Pemilik mengakui saat masih berupa bibit dirinya tidak mendapati tanda-tanda aneh pada tanaman tersebut. Setelah tumbuh besar barulah muncul beberapa tunas yang menyembul hingga membentuk cabang baru.

Fenomena langka itu pun masih menyisakan misteri. Sebagian warga menganggapnya biasa. Namun tak sedikit yang mengaitkannya dengan sisi spiritual. Tanaman itu pun diyakini merupakan sisa jejak perjalanan para wali di tanah Jawa.

(fat/fat)