Kisah 'Istimewa' Kampung Pitu Pacitan yang Hanya Dihuni 7 Keluarga

Purwo Sumodiharjo - detikNews
Selasa, 12 Okt 2021 10:56 WIB
Kisah Kampung Pitu Pacitan yang Hanya Dihuni 7 Keluarga
Salah satu warga Kampung Pitu Pacitan (Foto: Purwo Sumodiharjo/detikcom)
Pacitan - Nama aslinya Lingkungan Ngendak. Wilayah Desa Temon, Kecamatan Arjosari, ini lebih terkenal dengan sebutan 'Kampung Pitu'. Ini karena sepanjang sejarahnya, tempat tersebut hanya dihuni 7 Kepala Keluarga (KK).

Kendati terkesan terpencil, namun akses ke permukiman itu sebenarnya tidaklah sulit. Bahkan bahkan jaraknya hanya terpaut sekitar 4 KM dengan ibu kota Kecamatan Arjosari. Lokasi yang jauh dari jalur utama membuatnya jarang terjamah warga luar.

Perkampungan berpenduduk 25 orang itu bisa dijangkau menggunakan sepeda motor atau mobil kecil. Jalan penghubung yang ada sebagian besar sudah berlapis semen. Itu sangat berbeda dengan 5 tahun lalu saat detikcom datang ke tempat tersebut.

Infrastruktur lain yang juga dibenahi adalah jembatan. Sarana penyeberangan yang melintang sungai itu dulunya hanya terbuat dari bambu. Namun kini terdapat jembatan permanen yang terbuat dari cor. Lebarnya pun memadai dilewati mobil kecil.

"Kampung Pitu memang agak terpencil sekaligus memiliki beberapa mitos yang membuatnya berbeda dengan kampung lain," kata Kepala Desa Temon, Jamiatin (47), Selasa (12/10/2021).

Menurut cerita, lanjut Jamiatin, Kampung Pitu memang memiliki keistimewaan. Itu tak lepas dari kedatangan seorang wali yang diyakini pernah singgah di dusun tersebut. Itu dibuktikan dengan keberadaan pendedehan (Tempat berjemur) sekaligus jejak kaki di tepi mata air.

Berdasarkan cerita turun-temurun, kampung itu memang hanya dihuni 7 rumah. Tak pernah kurang atau lebih. Jika ada penambahan melebihi jumlah tersebut, sesuatu dapat terjadi. Seperti adanya warga sakit, tidak kerasan, dan sebagianya hingga membuat yang bersangkutan pindah dari lokasi.

"Jadi dari dulu sampai sekarang hanya berjumlah 7 (KK)," tambah kades.

Jamiatin menjelaskan, mitos yang ada tidak menghentikan tekad pemerintah desa memajukan Kampung Pitu. Hanya saja, jarak yang relatif jauh dari pusat pemerintahan menjadi kendala tersendiri dalam percepatan pembangunan di kawasan itu. Belum lagi letak geografis yang membuatnya terkesan marjinal.

"Jadi dari pusat Desa Temon itu jaraknya sekitar 12 KM menuju ke Kampung Pitu. Lebih dekatnya malah ke Desa Jatimalang dan Gayuhan," imbuh perempuan berjilbab itu.

Simak juga Video: Sosok Sudirno, Perancang Uang Rupiah yang Hidup Sederhana

[Gambas:Video 20detik]



(fat/fat)