Ini Sosok Dianus Pionam, Tersangka TPPU Rp 531 M Hasil Jual Obat Ilegal

Enggran Eko Budianto - detikNews
Jumat, 17 Sep 2021 17:31 WIB
Dianus Pionam alias Awi (55) ditetapkan sebagai tersangka oleh Bareskrim Polri, dalam kasus tindak pidana pencucian uang (TPPU). Uang tersebut hasil perdagangan obat secara ilegal.
Dianus Pionam alias Awi (55)/Foto: Enggran Eko Budianto/detikcom

Polisi juga menyita berbagai barang bukti dari sindikat perdagangan obat aborsi ini. Yaitu berupa 19 boks obat berisi 2.292 butir pil Cytotec, 1 boks obat merek Zelona, 1 boks merek Histico dan 1 boks merek Faridexon Forte, 2 boks Calcium Gluconate, 9 ponsel, buku rekening tabungan, kartu ATM, serta mobil Porche Cayene nopol B 163 UJH.

"Kasus aborsi itu, setelah kami runut sampai ke Dianus ini. Yang kami temukan dan merasakan akibatnya adalah obat cytotec yang dijual Dianus, itu bisa digunakan untuk aborsi. Tidak menutup kemungkinan dia menjual obat lain, itu yang sedang dikembangkan Bareskrim," terang Andaru.

Dianus akhirnya menyerahkan diri ke Polres Mojokerto pada 12 Maret 2021. Hari itu juga ia ditetapkan sebagai tersangka kasus peredaran sediaan farmasi yang tidak memiliki izin edar. Dianus disangka dengan pasal 196 atau pasal 197 UU RI Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.

"Tersangka saat itu tidak kami tahan karena mempunyai komorbid diabetes dan darah tinggi yang rentan terpapar COVID-19," jelas Andaru.

Sampai saat ini proses hukum terhadap Dianus di Mojokerto belum tuntas. Ia menjadi tahanan Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto karena tahap persidangan masih berlangsung.

Meski begitu, Dianus harus menghadapi kasus baru yang saat ini ditangani tim gabungan Bareskrim dengan PPATK. Yakni TPPU senilai Rp 531 miliar yang diduga hasil perdagangan obat secara ilegal sejak 2011. Uang ratusan miliar itu telah disita dari 9 rekening bank milik tersangka.

Tersangka memesan obat-obatan dari luar negeri. Setelah itu, barang dikirim melalui jasa ekspedisi di Indonesia dengan nama penerima Awi/Flora Pharmacy.

Dianus menggunakan kurir untuk distribusi obat ke pembeli di Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Timur, dan wilayah lainnya. Ia mendapatkan keuntungan 10-15 persen dari harga barang yang diterimanya secara berkelanjutan sejak 2011 hingga 2021.


(sun/bdh)