Kades di Blitar Dilaporkan Gelapkan Dana BST

Erliana Riady - detikNews
Sabtu, 04 Sep 2021 08:42 WIB
penggelapan bst di blitar
Pasutri yang laporkan Kades Ngadri tunjukkan tanda tangan yang diduga dipalsu (Foto: Erliana Riady)
Blitar -

Dua warga Desa Ngadri, Kecamatan Binangun, Kabupaten Blitar, melaporkan kadesnya ke Polres Blitar. Kades Ngadri diduga menggelapkan dana Bantuan Sosial Tunai (BST) dengan cara memalsukan tanda tangan warga.

Yang melakukan pelaporan adalah Hartatik (49) dan Haryono (52), pasutri warga RT 3 RW. Mereka melaporkan Kades Ngadri (MM) dengan dugaan menggelapkan dana BST.

Kepada wartawan, Hartatik menceritakan kronologi ditemukannya dugaan penggelapan dana BST yang tidak sampai kepada warga yang seharusnya menerima. Hartatik merupakan kader Posyandu di desanya. Pada Minggu (1/8) dia mendapat informasi dari kader lain jika nama bapaknya almarhum dan nama suaminya tercantum sebagai penerima BST untuk bulan Agustus 2021.

Nama almarhum ayah Hartatik adalah Lasminto yang sudah meninggal sekitar 10 tahun yang lalu. Sedangkan suami Hartatik adalah Haryono.

penggelapan bst di blitarKantor Desa Ngadri (Foto: Erliana Riady)

"Lha saya bilang, aku ora nrimo duite kok. Lha terus sopo sing nrimo? (saya tidak menerima uangnya kok, lha terus siapa yang menerima?," ucap Hartatik saat dikonfirmasi detikcom, Sabtu (4/9/2021).

Hartatik lalu menanyakan masalah ini kepada saudaranya yang paham hukum. Karena skema distribusi BST melalui kantor pos terdekat, maka Hartatik diminta menanyakan langsung ke Kantor Pos Binangun.

Ketika menanyakan itu, jawaban petugas kantor pos cukup mengejutkan. Karena dalam daftar penerima yang ditunjukkan kepada Hartatik, memang tercantum nama almarhum ayahnya Lasmito dan suaminya Haryono. Kedua nama itu mendapatkan dana BST dengan cap pos Agustus sebesar Rp 600 ribu.

"Padahal suami saya gak pernah tanda tangan. Ada juga tanda tangan bapak saya. Kan gak mungkin, wong bapak sudah lama meninggal 10 tahun lalu. Petugas pos bilang, kalau 30 daftar nama penerima BST untuk Desa Ngadri itu uangnya dibawa pak kades," ungkapnya.

Soal masuknya nama warga yang sudah meninggal, juga diakui ahli waris Katini, yakni Supriyanto. Supri mengaku neneknya telah meninggal sekitar lima tahun yang lalu. Namun dalam daftar penerima BST Agustus, ada cap jempol yang menyatakan jika nama Katini juga telah mengambil uang Rp 600 ribu itu.

"Saya tidak tahu itu cap jempol siapa. Karena saya sebagai ahli waris mbah Katini juga tidak menerima uang itu sepeserpun," ujar Supriyanto.

Supriyanto menduga tidak menutup kemungkinan ada beberapa warga desa Ngadri yang telah meninggal dunia juga dimasukkan dalam daftar penerima bantuan sosial. Karena ada nama Bronto, tetangganya yang sudah meninggal juga tertera dalam daftar orang yang sudah mengambil BST yang cair pada Agustus 2021.

Kasat Reskrim Polres Blitar AKP Ardyan Yudho Setyantoro membenarkan telah menerima laporan itu. Pada Jumat (3/9) keduanya telah dipanggil ke Polres Blitar di Talun untuk memberikan keterangan sekaligus barang bukti yang diperlukan dalam penyidikan.

"Iya benar ada laporan. Masih kami selidiki, nanti akan kami rilis dan jelaskan," kata Ardyan.

(iwd/iwd)