Suka Duka Babinsa-Bhabinkamtibmas Banyuwangi Rayu Warga Isoman ke Isoter

Ardian Fanani - detikNews
Jumat, 03 Sep 2021 19:33 WIB
covid-19 di banyuwangi
Babinsa dan Bhabinkamtibmas menjemput warga isoman untuk diantar ke isoter (Foto: Ardian Fanani)
Banyuwangi -

Tak mudah bagi Satgas COVID-19 Banyuwangi membujuk warga yang melakukan isolasi mandiri (isoman) untuk mau pindah ke isolasi terpusat (isoter). Mereka membutuhkan waktu 2 hari untuk bisa menjemput warga. Terkadang hal ini dilakukan hingga 24 jam.

Para petugas ini terdiri dari Babinsa, Bhabinkamtibmas, tenaga kesehatan, hingga perangkat desa. Mereka menjadi ujung tombak dalam penanganan COVID-19 di wilayah Desa dan kelurahan. Siang malam, mereka memburu warga yang terpapar COVID-19 kemudian dijemput agar mau masuk ke isoter.

"Kami lakukan 24 jam untuk mencari warta isoman. Begitu ada warga yang positif COVID-19 langsung kita datangi bersama dengan tenaga kesehatan dan perangkat desa," ujar Serda Hudori, Babinsa desa Blimbingsari kepada detikcom, Jumat (3/9/2021).

Hudori mengakui jika kesulitan terberat membujuk warga isoman ke isoter adalah pemahaman masyarakat terkait dengan isoter. Mereka berpikir isoter layaknya rumah sakit. Mereka takut jika masuk rumah sakit.

"Kesulitan meminta isoman ke isoter itu rata-rata mereka berpikir seperti rumah sakit. Mereka takut masuk rumah sakit soalnya. Setelah kita beri penjelasan ada yang mau," tambahnya.

Terkadang mereka yang diajak ke isoter memiliki banyak alasan. Butuh waktu rata-rata 2 hari untuk membujuk mereka agar mau masuk ke isoter.

"Yang alasan izin keluarga, anaknya yang tidak mau dirawat atau alasan lain. Padahal jika dibawa ke isoter itu agar COVID-19 tidak menyebar," tambahnya.

Hudori mengaku harus standby di Koramil atau on call dari rumah. Jika ada suspect baru, pihaknya harus mendatangi rumah warga. Tak hanya penjemputan, pihaknya juga melakukan tracing dan testing jika ada penularan COVID-19. Kegiatan pun dilakukan bersama dengan petugas kesehatan setempat.

"Ya harus standby. Kita biaya sendiri untuk keliling mencari warga yang terkena COVID-19," pungkasnya.

Hal yang sama diungkapkan oleh Bripka Abdul Gafur, Bhabinkamtibmas Desa Olehsari. Kehadiran aparat TNI-Polri dalam penjemputan isoman ke isoter membuat lebih kondusif.

"Tentu adanya Bhabinkamtibmas dan Babinsa agar tidak ada konflik di warga. Kadang kalau nakes saja atau perangkat desa mungkin ada konflik," tambahnya.

Tak semua isoman bisa dibawa ke isoter. Mereka yang dibawa ke isoter adalah orang yang OTG ataupun warga yang tak memiliki riwayat penyakit bawaan.

Pemahaman terhadap masyarakat pun menjadi kendala tersendiri bagi penjemputan isoman. Untuk itu, pihaknya memberikan pelayanan antar jemput bagi warga yang mau dipindah ke isoter.

"Berangkat ke isoter mereka dijemput dengan ambulans. Nanti setelah selesai isolasi mereka kita jemput dengan kendaraan dari kepolisian. Ini kita lakukan sebagai pelayanan prima dalam mengantisipasi penularan COVID-19 di Banyuwangi," tambahnya.

Kegiatan lain yang dilakukannya, kata Gafur, adalah sosialisasi bahaya COVID-19 kepada masyarakat. Selain itu, kegiatan operasi yustisi pun terus dilakukan agar masyarakat tetap patuh dengan protokol kesehatan yang ketat.

"Tentu dengan 5M terus kita sosialisasikan kepada masyarakat agar terhindar dari COVID-19," pungkasnya.

(iwd/iwd)