Heboh soal Fetish Mukena di Malang, Ini Faktor Penyebabnya Menurut Pakar

Muhammad Aminudin - detikNews
Sabtu, 21 Agu 2021 14:10 WIB
Malang -

Model di Malang mengaku menjadi korban fetish mukena. Pakar Kesehatan Mental Sumi Lestari mengungkapkan, fetish merupakan kelainan kejiwaan yang berkaitan dengan seksualitas.

"Sebenarnya fetish ini menjadi bagian dari gangguan parafilia. Itu adalah suatu permasalahan yang menyangkut kontrol terhadap orientasi seksual yang melibatkan objek aktivitas dan situasi tertentu yang tidak lazim," ujar Sumi kepada wartawan, Sabtu (21/8/2021).

Pengidap fetish, kata Sumi, lebih memilih melampiaskan gairah seksualitasnya dengan menggunakan benda-benda mati. Atau organ tubuh manusia nongenetikal.

"Kalau fetish ini justru objeknya adalah objek mati bukan, atau yang bukan objek sifatnya organ genetal, contohnya adalah kaki tangan rambut itu bisa menimbulkan gairah seksualitas," ucap pengajar Program Studi Psikologi Universitas Brawijaya Malang ini.

Benda-benda mati yang biasanya digunakan objek fetish, disebut Sumi, beragam. Mulai dari aneka pakaian dalam, lingerie, sepatu, sandal, kain, hingga terakhir fetish mukena yang dipakai perempuan, dinilai juga bisa menggairahkan seksualitas.

"Atau organ-organ tubuh nongenetal, yang bisa merangsang atau memberikan seksualitas. Tetapi pada kebanyakan orang normal melihatnya biasa saja," terangnya.

Menurut Sumi, terjadinya fetish biasanya karena ada persoalan yang pernah dialami si pengidap. Faktor eksternal biasanya yang sering berpengaruh terhadap adanya fetish tersebut. Di antaranya menerima pelecehan seksual.

"Kita ketahui sebenarnya bahwa setiap orang mempunyai permasalahan psikologis, entah itu disebabkan dari pengalaman masa lalu, pengalaman traumatis, terkait seksualitas misalkan adanya pelecehan seksual di masa anak-anak," ungkapnya.

Di sisi lain ada faktor dari dalam diri terkait ketidakmampuan dan keraguan terhadap potensi kejantanan diri sang pengidap fetish sendiri. Selain itu bisa jadi, mereka yang mengidap fetish ini pernah menjadi korban penghinaan di masa lalu, yang berkaitan seksualitas.

"Ada istilahnya keraguan tentang kejantanan potensi atau ketakutan akan penolakan, dan penghinaan dari orang lain, sehingga dia lebih mengalihkan mengalami fetish ini dengan cara untuk mengontrol atas objek mati yang lebih melindungi dirinya. Atau mengimbangi perasaan ketidakmampuannya itu kalau dia melakukan hubungan seksual dengan sesama manusia. Itukan kekhawatirannya dia tidak diterima," paparnya.

Selain itu pengidap fetish biasanya juga merasa tak memiliki kemampuan individu yang menonjol. Ketakutan mendapat penolakan dari orang lain juga kerap menjadi bagian kekhawatiran bagi sang pengidap fetish tersebut.

"Dia merasa inferioritas dari segi kejantanannya, kemudian ada potensi yang mungkin dia juga merasa dirinya tidak memiliki potensi yang bagus. Kemudian adanya ketakutan dan penolakan terhadap orang lain pada dirinya," jelasnya.

Model yang mengaku sebagai korban Fetish Mukena telah melapor ke Polresta Malang Kota. Polisi masih mempelajari kasus ini, apakah terkait pelanggaran Undang-Undang ITE atau tidak.

(sun/bdh)