Lurah di Pacitan Ini Berhasil Jadikan Elpiji Sebagai Bahan Bakar Traktor Mini

Purwo Sumodiharjo - detikNews
Sabtu, 14 Agu 2021 09:34 WIB
Pacitan -

Sejak diterapkannya PPKM, aktivitas perkantoran berubah. Termasuk di antaranya jam kerja di layanan pemerintahan. Aktivitas pegawai tak tak lagi sepenuhnya di kantor. Sebagian bekerja dari rumah atau WFH (work from home).

Tentu saja waktu senggang dirasakan lebih banyak bagi pegawai. Alasan itu membuat Frendy Eka Endriyanto (36) tak ingin berpangku tangan. Pria yang menjabat Lurah Pacitan itu justru rajin bereksperimen saat WFH. Hasilnya, dia sukses mengaplikasikan bahan bakar gas untuk mesin traktor.

"Pengurangan jam efektif di kantor mungkin sampai 50 persen ya. Jadi pas di rumah gitu mikir. Apa yang bisa saya lakukan," ujar Frendy berbincang dengan detikcom, Sabtu (13/8/2021).

Pilihan pun akhirnya jatuh pada modifikasi mesin. Terlebih, sejak masih muda bapak tiga putra yang tinggal di Dusun Jambu, Desa Bangunsari itu memang hobi otomotif. Dengan memanfaatkan peralatan seadanya, Frendy mencoba mengadaptasi teknologi BBM ke elpiji pada traktor jenis kultivator.

traktor berbahan bakar gasInovasi ini setelah mencoba berkali-kali (Foto: Purwo Sumodiharjo)

Frendy mengakui awal proses uji coba memang tak langsung mulus. Namun begitu dirinya tak mengenal istilah patah arang. Berkali-kali percobaan dilakukan hingga dirinya menemukan rumus baku seperti yang dia gunakan hingga saat ini. Traktor mini itu pun masih beroperasi tanpa gangguan berarti.

"Sebenarnya rumusnya sederhana. Seperti hanya kita menyetel mesin pada umumnya. Yaitu mencari campuran yang pas antara bahan bakar dan oksigen," papar Frendy yang belakangan juga bertani porang.

Tidak itu saja. Mesin traktor hasil modifikasi Frendy juga dilengkapi fitur gas manual. Dengan begitu, penggunanya dapat mengatur putaran mesin sesuai kebutuhan. Untuk menyetelnya, operator cukup menggerakkan tuas kecil yang terletak di stang sebelah kanan. Tepatnya dekat pegangan tangan.

Diakui Frendy, pemanfaatan teknologi berbasis elpiji juga berdampak cukup besar terhadap penghematan dana. Saat masih menggunakan BBM, traktor menghabiskan bensin 6-8 liter per hari. Namun setelah dikonversi ke elpiji, paling banyak hanya butuh 1 tabung melon per hari.

"Dengan banyaknya kebutuhan biaya untuk BBM kami berpikir, apakah bisa diminimalkan pengeluaran untuk BBM. Ternyata hasilnya seperti itu," tambahnya.

Meski tergolong berhasil dengan percobaan pertamanya, namun Frendy mengaku belum puas. Ini karena ada beberapa hal yang dirasa perlu penyempurnaan. Lulusan Institut Pendidikan Dalam Negeri (IPDN) tahun 2008 itu juga masih memiliki obsesi lain. Yaitu mengonversi semua mesin pertanian ke bahan bakar gas.

"Karena memang lebih hemat biaya. Mudah-mudahan karya sederhana ini nantinya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sehingga para petani semakin sejahtera," pungkas Frendy.

(iwd/iwd)