Begini Penjelasan BMKG soal Viral 'Langit Terbelah' di Pacitan

Purwo Sumodiharjo - detikNews
Sabtu, 07 Agu 2021 20:53 WIB
Fenomena alam Langit Terbelah viral di media sosial. Dalam video berdurasi 1 menit 17 detik itu digambarkan awan putih membentuk garis dari ufuk selatan hingga berakhir di orbit matahari. Meski hanya berlangsung puluhan menit namun pemandangan langka itu sempat menyita perhatian warga.
Viral 'langit terbelah' di Pacitan (Foto file: Purwo Sumodiharjo)
Pacitan -

Fenomena alam 'Langit Terbelah' di Pacitan viral, Jumat (6/8/2021). Tak ayal, kemunculan awan lurus yang tak lazim itu menjadi perbincangan di kalangan warganet.

Penjelasan pun datang dari Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono.

"Menyikapi adanya tayangan bentuk awan unik berbentuk lurus di Pacitan dalam salah satu akun Youtube dan sempat viral kemarin maka ada 2 dugaan terkait jenis awan tersebut," tulis Daryono di akun Instagram pribadinya seperti dilihat detikcom, Sabtu (7/8/2021).

Dugaan pertama, lanjut Daryono, hal itu merupakan roll cloud atau awan gulung. Memang jenis awan tersebut termasuk langka. Namun beberapa kali terjadi di sejumlah tempat. Itu terjadi karena ada pertemuan dua masa udara dengan kelembaban atau kandungan uap air yg berbeda.

"Dua hal yang mungkinkan, dipengaruhi oleh pertemuan angin regional dengan angin laut/darat atau terbentuk pada garis front dua masa udara yang berbeda kandungan uap airnya," sambungnya.

Adapun kemungkinan dugaan kedua, awan terbentuk oleh contrail pesawat jet. Namun biasanya diameter jejaknya relatif kecil dengan garis awan lebih kuat dibanding latar langitnya. Contrail umurnya sangat pendek. Lazimnya hilang dalam hitungan menit dan bentuknya mirip awan cirrus.

Daryono memastikan awan membentang yang disebut membelah langit itu merupakan fenomena atmosferik biasa. Pun bukan merupakan pertanda akan terjadi sesuatu yang luar biasa. Seperti halnya akan terjadi gempa besar atau bencana lainnya.

Selama ini, imbuh dia, memang sebagian masyarakat ada yang menduga bahkan percaya keterkaitan antara bentuk awan lurus di langit dengan pertanda akan terjadi gempa. Hanya saja, dugaan itu masih sangat spekulatif. Pasalnya belum ada kajian ilmiah yang membuktikan kebenarannya. Demikian pula belum terbukti secara empiris.

"Untuk itu kepada masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak mudah percaya dengan isu yang berkembang dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya," pesan Daryono.

(fat/fat)